TBC 100 Persen Sembuh, Bukan Kutukan atau Keturunan

- Selasa, 23 Juni 2026 | 11:00 WIB
TBC 100 Persen Sembuh, Bukan Kutukan atau Keturunan

PARADAPOS.COM - Praktisi kesehatan masyarakat, dr. Ngabila Salama, menegaskan bahwa tuberkulosis (TBC) adalah penyakit yang 100 persen dapat disembuhkan dan bukan berasal dari kutukan atau keturunan. Pernyataan ini disampaikan dalam acara podcast Special Interview bersama host Vincen Bero yang tayang di kanal Youtube Cumicumi pada Sabtu (21/6/2026). dr. Ngabila juga menyoroti stigma sosial berat yang masih membayangi para penderita, seperti dikucilkan, diceraikan, hingga dipecat dari pekerjaan, padahal setelah menjalani isolasi selama 14 hari, risiko penularan TBC turun drastis menjadi sekitar 20 persen.

Dua Medan Perang yang Harus Dihadapi Pasien TBC

Setiap orang yang didiagnosis tuberkulosis sejatinya sedang bertarung di dua front sekaligus. Di satu sisi, tubuhnya perlahan digerogoti bakteri Mycobacterium tuberculosis. Di sisi lain, ia harus berhadapan dengan stigma sosial yang tak kalah menyakitkan.

Seberapa patuh pun seorang pasien dalam menelan obat dan menjalani rangkaian pemulihan, dampak negatif dari stigma seringkali terasa lebih berat. Banyak dari mereka yang dikucilkan, diceraikan pasangan, diusir dari rumah sendiri, atau bahkan kehilangan pekerjaan. Ironisnya, ketakutan masyarakat terhadap penularan TBC justru tidak sebanding dengan fakta medis yang ada.

Praktisi Kesehatan Bantah Mitos Seputar TBC

Melalui kesempatan dalam podcast tersebut, dr. Ngabila Salama dengan tegas membantah berbagai mitos yang beredar di masyarakat. Ia menekankan bahwa TBC adalah penyakit medis biasa yang tidak ada kaitannya dengan hal-hal supranatural.

"TBC 100% dapat disembuhkan ya. Ini adalah suatu penyakit biasa, bukan kutukan, bukan keturunan dan tidak boleh ada stigma pada pasien TBC," ucap dr. Ngabila dalam video yang diunggah kanal Youtube Cumicumi.

Proses Penyembuhan dan Fakta Penularan

Lebih lanjut, dr. Ngabila menjelaskan bahwa pengobatan TBC kini sudah semakin sederhana dan efektif. Dengan kemajuan teknologi farmasi, obat-obatan yang diberikan telah disederhanakan sehingga memudahkan pasien untuk patuh berobat.

"Orang yang kena TBC itu kadang kena stigma sosial luar biasa. Dikucilkan, diceraikan, dibuang dari rumah, diusir dsb. Bahkan dipecat dari pekerjaan itu jadi masih sesuatu hal yang tabu," jelasnya.

Padahal, lanjut dr. Ngabila, setelah menjalani isolasi selama 14 hari saja, kemungkinan untuk menularkan penyakit kepada orang lain sudah sangat rendah, yakni sekitar 20 persen. Pasien pun sebenarnya sudah bisa beraktivitas sehari-hari asalkan menggunakan masker dan menjalani pengobatan secara teratur.

"Dia cukup bisa beraktivitas sehari-hari dengan masker dan dengan pengobatan yang teratur, dengan obat-obatan yang sudah disederhanakan makin canggih. Harusnya 6 bulan dia minum obat itu bisa sembuh total sempurna 100%," tegasnya.

Yang dibutuhkan para penderita TBC pada masa-masa kritis itu bukanlah jarak sosial atau pengucilan, melainkan dukungan penuh dari keluarga dan lingkungan sekitar. Dengan pengobatan yang konsisten selama enam bulan, kesembuhan total bisa diraih tanpa meninggalkan bekas yang berarti.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar