Rupiah Merosot ke Rp17.995 per Dolar AS, Tertekan Sentimen Global dan Domestik

- Kamis, 02 Juli 2026 | 09:25 WIB
Rupiah Merosot ke Rp17.995 per Dolar AS, Tertekan Sentimen Global dan Domestik
PARADAPOS.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali tertekan pada penutupan perdagangan Kamis, 2 Juli 2026. Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda ditutup melemah 43 poin atau 0,24 persen ke level Rp17.995 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp17.952 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi di tengah sentimen global yang masih dinamis dan tekanan domestik yang kian terasa.

Rupiah Terkoreksi di Tengah Sentimen Global dan Domestik

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya mengungkapkan, rupiah sempat menyentuh level terlemahnya di Rp17.995 per dolar AS. "Pada perdagangan sore ini mata uang rupiah ditutup melemah 43 poin, sebelumnya sempat melemah 50 poin di level Rp17.995 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp17.952 per USD," jelasnya. Data dari Yahoo Finance mencatat posisi rupiah sedikit lebih baik di Rp17.987 per dolar AS, namun tetap melemah 31 poin atau 0,17 persen dari penutupan sebelumnya. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di level Rp17.994 per dolar AS, turun 33 poin dari posisi sebelumnya.

Negosiasi Iran-AS Beri Harapan, Namun Pasar Tetap Waspada

Ibrahim menjelaskan, pergerakan rupiah hari ini tidak lepas dari sentimen pembicaraan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat yang berfokus pada Selat Hormuz. Kedua negara dilaporkan menghabiskan dua hari di Doha untuk membahas lalu lintas maritim dan pencairan dana Iran. Meskipun lalu lintas kapal tanker mulai pulih—Wakil Presiden AS JD Vance menyebutkan aliran minyak telah kembali ke tingkat sebelum perang—ketegangan masih terasa. Dua sumber senior Iran menyatakan bahwa Teheran bertekad mendapatkan pengakuan internasional atas kendalinya atas selat tersebut, bahkan jika harus dengan kekerasan. Iran juga berencana memberlakukan bea masuk pada pengiriman mulai pertengahan Agustus. Dari sisi data AS, perubahan Ketenagakerjaan ADP menunjukkan penggajian swasta hanya meningkat 98 ribu pada Juni, di bawah ekspektasi pasar. Indeks Manajer Pembelian Manufaktur ISM (PMI) juga turun menjadi 53,3. Pasar kini menunggu rilis data Nonfarm Payrolls AS. "Perhatian pasar saat ini beralih ke rilis data Nonfarm Payrolls AS nanti malam, dengan ekspektasi ekonomi AS akan meningkatkan angkatan kerjanya sebesar 110 ribu. Sementara Tingkat Pengangguran diperkirakan tetap tidak berubah di 4,3 persen," terang Ibrahim.

Tekanan Domestik Menguji Kepercayaan Pasar

Di dalam negeri, Ibrahim menilai kepercayaan pelaku pasar terhadap Indonesia sedang diuji. Sejumlah sentimen negatif muncul memasuki kuartal II, mulai dari kasus korupsi tingkat tinggi, kekhawatiran fiskal setelah neraca perdagangan defisit pada Mei, lonjakan inflasi, hingga penundaan pengumuman terkait pasar modal Indonesia oleh MSCI. Data Purchasing Managers' Index (PMI) Indonesia dari S&P Global juga menunjukkan angka 46,9 pada Juni 2026. Angka ini merupakan tingkat penurunan paling kuat dalam setahun. S&P mengungkapkan, penurunan permintaan atas barang manufaktur Indonesia menjadi penyebab utama, dengan pesanan baru turun untuk pertama kalinya dalam tiga bulan.

Cadangan Devisa Menyusut, Fitch Beri Peringatan

Lembaga pemeringkat internasional Fitch Rating memperkirakan cadangan devisa Indonesia pada 2026 hanya mampu membiayai sekitar 4,9 bulan kebutuhan pembayaran eksternal berjalan. Angka ini sedikit lebih rendah dari median negara dengan peringkat BBB yang mencapai 5 bulan. Menurut Fitch, penyusutan ini dipicu oleh memburuknya terms of trade akibat kenaikan harga energi global, intervensi Bank Indonesia di pasar valas, serta pembayaran utang luar negeri. Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memprediksi pergerakan rupiah pada perdagangan Jumat besok masih akan fluktuatif. "Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.990 per USD hingga Rp18.050 per USD," pungkasnya.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar