PARADAPOS.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Senin, 6 Juli 2026, di tengah tekanan dolar AS yang menguji ketahanan menjelang rapat The Fed. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di level Rp17.992 per USD, turun 29 poin atau 0,16 persen dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.963 per USD. Sementara itu, mengacu pada data Yahoo Finance, rupiah diperdagangkan di level Rp17.955 per USD, juga menunjukkan pelemahan dibandingkan pembukaan perdagangan akhir pekan lalu. Pelemahan ini terjadi saat pelaku pasar mencermati berbagai sentimen global dan domestik yang saling bertolak belakang.
Rupiah Fluktuatif, Diprediksi Melemah
Analis mata uang, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan pergerakan rupiah hari ini akan cenderung fluktuatif namun berakhir di zona merah. Ia memproyeksikan mata uang Garuda akan bergerak dalam rentang Rp17.910 hingga Rp17.970 per USD.
Menurut Ibrahim, tekanan terhadap rupiah berasal dari sentimen negatif yang bercampur aduk, baik dari dalam maupun luar negeri. Pelaku pasar, ujarnya, masih mencermati secara saksama perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan titik terang.
"Sentimen yang beragam tersebut membuat pelaku pasar tetap waspada terhadap perkembangan negosiasi AS-Iran, kelancaran pasokan minyak mentah dari kawasan Teluk, serta prospek pemulihan permintaan energi setelah libur panjang di Amerika Serikat," katanya.
Data Ketenagakerjaan AS dan Dampaknya ke The Fed
Dari sisi eksternal, data ketenagakerjaan Amerika Serikat turut memberikan tekanan. Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) melaporkan bahwa ekonomi AS hanya menambah 57 ribu lapangan kerja pada Juni, jauh di bawah ekspektasi pasar yang mencapai 110 ribu. Di sisi lain, tingkat pengangguran justru turun tipis menjadi 4,2 persen dari sebelumnya 4,3 persen. Rata-rata pendapatan per jam naik 0,3 persen secara bulanan dan 3,5 persen secara tahunan, sesuai dengan perkiraan.
"Data Non Farm Payroll yang lebih lemah membantu meredakan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dari Federal Reserve. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada September turun menjadi 51 persen dari sebelumnya 63 persen," jelasnya.
Sentimen Domestik: Risiko Fiskal Ikut Membayangi
Dari dalam negeri, Ibrahim berpendapat bahwa melambatnya laju pertumbuhan pos penerimaan pajak penghasilan berisiko mempengaruhi pandangan pelaku pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia. Hal ini, lanjutnya, menjadi faktor tambahan yang membuat rupiah sulit untuk menguat secara signifikan dalam jangka pendek.
Sementara itu, Wall Street Journal melaporkan bahwa Teheran menolak proposal Washington yang meminta Iran melepaskan klaim atas Selat Hormuz sebagai imbalan atas pencairan miliaran dolar aset Iran yang dibekukan. Situasi ini menambah ketidakpastian di pasar energi global, yang secara tidak langsung turut mempengaruhi pergerakan mata uang negara-negara pengimpor minyak seperti Indonesia.
Editor: Yoga Santoso
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Menteri Kehutanan Laporkan Penolakan Gratifikasi ke KPK Usai Terima Amplop dari Bupati Kuansing
Dubes RI Hadiri Penghormatan Terakhir untuk Ayatollah Khamenei di Teheran
Harga Emas Antam Stagnan di Rp2,670 Juta per Gram, Buyback Tak Bergerak
IHSG Dibuka Menguat 0,80 Persen ke 5.922,88, Optimisme Investor Dorong Bursa Asia