PARADAPOS.COM - Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono, memperingatkan seluruh kepala daerah di Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang dipicu oleh fenomena iklim ekstrem El Nino. Peringatan ini disampaikan menyusul kebakaran yang melanda TPA Jatiwaringin di Kabupaten Tangerang sejak 28 Juni 2026. Dalam kunjungannya ke lokasi pada Sabtu, 4 Juli 2026, Diaz menegaskan bahwa Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) telah memberikan sinyal bahwa dampak El Nino tahun ini diperkirakan lebih parah, sehingga langkah antisipasi harus segera dilakukan di seluruh wilayah.
Surat Edaran Antisipasi Telah Diterbitkan
Pemerintah pusat tidak tinggal diam. Diaz mengungkapkan bahwa Kementerian Lingkungan Hidup telah mengeluarkan surat edaran resmi kepada para kepala daerah. Surat tersebut memuat panduan teknis yang harus dijalankan oleh pemerintah daerah untuk mengantisipasi potensi kebakaran di TPA masing-masing.
"WMO sudah memberikan warning bahwa El Nino ini akan lebih gawat lagi. Artinya kita harus antisipasi akan ada potensi kebakaran lain di TPA di seluruh Indonesia. Surat edaran ini merinci hal-hal apa yang perlu dilakukan oleh kepala daerah di daerah masing-masing mengantisipasi El Nino," ujar Diaz dalam keterangannya, Minggu, 5 Juli 2026.
Keselamatan Warga Jadi Prioritas Utama
Saat meninjau langsung titik api di TPA Jatiwaringin, Diaz menyoroti risiko yang mengancam permukiman warga di sekitar lokasi. Perubahan arah angin yang tidak menentu, menurutnya, menjadi faktor kritis yang dapat memperluas sebaran asap berbahaya.
"Lalu kami bicara juga dengan Pak Bupati, sudah melakukan antisipasi untuk pengecekan ISPA, penanganan pengungsian ketika arah angin nanti berubah," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa keselamatan warga merupakan prioritas utama dalam setiap langkah penanganan darurat yang diambil.
Tantangan Pemadaman di TPA Jatiwaringin
Kebakaran di TPA Jatiwaringin pertama kali terdeteksi oleh warga pada 28 Juni 2026. Hingga hari kelima, proses pemadaman masih terus berlangsung. Diaz menjelaskan bahwa karakteristik kebakaran di TPA sangat mirip dengan kebakaran lahan gambut, sehingga pemadaman menjadi jauh lebih rumit.
“Hari ini kami lihat kebakaran sudah hari ke-5 (Sabtu) dan memang pemadaman ini bukan hal yang mudah ya, ini karakteristiknya seperti kebakaran lahan gambut karena mungkin di atasnya sudah terlihat padam tapi ketika lihat di bagian bawahnya masih ada api nya, kapan saja bisa terus kebakar, ada CH4 nya, bisa ada potensi ledakan juga,” ungkapnya.
Teknologi dan Pemantauan Udara Dikerahkan
Untuk mempercepat proses pemadaman dan meminimalkan dampak lingkungan, sejumlah langkah teknis telah diterapkan. Pemerintah daerah berkoordinasi dengan pihak bandara dan TNI AU untuk melakukan pemantauan udara secara berkala menggunakan drone.
Selain itu, dua unit sistem pemantauan bergerak atau mobile monitoring system telah dikerahkan di sekitar lokasi kebakaran. Alat ini digunakan untuk mengukur kadar polutan seperti sulfur dioksida (SO2), nitrogen dioksida (NO2), serta partikel halus PM 10 dan PM 2.5.
“Kami sudah minta dilakukan koordinasi dengan pihak bandara dan pihak TNI AU agar bisa melakukan monitoring analisa melalui drone secara berkala, kami juga sudah deploy 2 mobile monitoring system untuk memonitor beberapa hal seperti SO2, PM 10, PM 2.5 yang kita lihat sudah di atas baku mutu,” kata Diaz.
Kondisi udara yang terpantau di atas ambang batas baku mutu ini menjadi peringatan serius bagi pemerintah daerah untuk segera mengambil tindakan preventif, terutama di tengah ancaman El Nino yang diprediksi masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.
Editor: Annisa Rachmad
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Ibu Hamil 8 Bulan Tewas Kena Peluru Nyasar di Intan Jaya, Warga Protes Situasi Keamanan
TNI Musnahkan Ladang Ganja 2,5 Hektare di Aceh Besar, Berawal dari Laporan Warga
BNPB Gerak Cepat Tangani Banjir dan Angin Puting Beliung di Deli Serdang
Badan Geologi Imbau Wisatawan Tak Mendekati Kawah Gunung Kelimutu Meski Suhu Air Menurun