PARADAPOS.COM - Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Satya Widya Yudha, meminta PT PLN (Persero) untuk segera memeriksa daya mampu pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di seluruh Indonesia. Langkah ini dinilai krusial untuk mendeteksi potensi gangguan pasokan listrik, terutama setelah sejumlah PLTU berusia tua menunjukkan penurunan kapasitas produksi. Permintaan tersebut disampaikan Satya dalam diskusi bertajuk “Menjaga Pasokan Batu Bara untuk Kebutuhan Nasional” di Jakarta, Selasa lalu.
Pentingnya Pengecekan Daya Mampu PLTU
Dalam kesempatan itu, Satya mengungkapkan bahwa ia telah menyampaikan hal serupa kepada Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo. “Saya sampaikan juga ke Direktur Utama PLN beberapa waktu lalu, coba dicek daya mampunya,” ujarnya.
Menurut definisi yang dikutip dari laman resmi Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan (Ditjen Gatrik) Kementerian ESDM, daya mampu adalah kapasitas nyata suatu pembangkit dalam menghasilkan daya. Satya menyoroti bahwa PLTU Jawa 1 hingga 7, yang kini telah berusia sekitar 40 tahun, mengalami penurunan daya mampu yang signifikan. Faktor usia ini, jelasnya, membuat kapasitas riil pembangkit tidak lagi sama dengan kapasitas terpasang.
“Misalkan kalau dihitung kapasitas terpasangnya 3.600 megawatt (MW), tetapi daya mampunya di bawah itu,” tutur Satya.
Faktor Lain di Balik Penurunan Kinerja
Ia menambahkan, permasalahan ini harus menjadi bagian dari evaluasi menyeluruh terhadap seluruh PLTU di Indonesia. Selain usia, ada beberapa faktor lain yang turut memengaruhi daya mampu, seperti pemeliharaan (maintenance) dan spesifikasi batu bara yang digunakan.
Satya menekankan bahwa solusi akan menjadi lebih rumit jika masalah yang dihadapi PLN adalah penurunan daya mampu secara teknis. “Maka, audit teknologi untuk masing-masing PLTU itu diperlukan, supaya kita mengetahui secara pasti karakteristiknya. Kita tidak bisa cuma menyalahkan dari sisi batu baranya saja, tetapi aspek teknis juga harus menjadi satu kesatuan dalam evaluasi,” ungkapnya.
Langkah PLN: Retrofit untuk Batu Bara Kalori Rendah
Menanggapi situasi ini, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyatakan bahwa pihaknya tengah mempersiapkan modifikasi atau retrofit pada sejumlah PLTU. Tujuannya adalah agar pembangkit bisa menggunakan batu bara dengan kalori rendah, sehingga pasokan listrik tetap terjaga dan pemadaman bergilir bisa dicegah.
Darmawan menjelaskan bahwa retrofit memungkinkan pembangkit untuk beroperasi dengan batu bara yang lebih murah dan lebih melimpah. Ia mencontohkan keberhasilan retrofit pada PLTU Suralaya unit 6 dan 7. Kedua unit tersebut kini mampu menggunakan batu bara kalori rendah, yakni sekitar 4.100 hingga 4.300 kcal per kg. Angka ini jauh lebih rendah dari spesifikasi awal yang mensyaratkan kalori 4.600 hingga 4.800 kcal per kg.
“Kami yakin modifikasi ini bisa menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi permasalahan pasokan batu bara medium rank atau berkalori sedang,” ucap Darmawan.
Pasokan Batu Bara dan Dampaknya pada Pemadaman
Ia menambahkan, saat ini produksi batu bara kalori rendah jauh lebih tinggi dibandingkan produksi batu bara dengan kalori menengah hingga tinggi. Kendala pasokan batu bara kalori menengah inilah yang disebut Darmawan menjadi penyebab utama PLN melakukan pemadaman bergilir pada pertengahan Juni 2026.
Dengan langkah retrofit dan audit daya mampu, diharapkan sistem kelistrikan nasional bisa lebih tangguh menghadapi fluktuasi pasokan batu bara di masa depan.
Editor: Laras Wulandari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Israel Kembali Serang Lebanon Selatan, Langgar Perjanjian yang Baru Diteken
Modi di DPR RI: India-Indonesia Perjuangkan Reformasi PBB dan Suara Negara Berkembang
Peradi Bersatu: Roy Suryo Jangan Bergembira Dulu, Putusan Praperadilan Tak Sentuh Pokok Perkara
InJourney Airports Siapkan Enam Maskapai untuk Aktifkan Kembali Bandara Husein Sastranegara Bandung