Menteri ESDM Targetkan Transisi B40 ke B50 Tuntas dalam Dua Bulan, Hemat Devisa Rp170 Triliun

- Kamis, 09 Juli 2026 | 09:25 WIB
Menteri ESDM Targetkan Transisi B40 ke B50 Tuntas dalam Dua Bulan, Hemat Devisa Rp170 Triliun
PARADAPOS.COM - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menargetkan transisi dari biodiesel B40 ke B50 rampung dalam dua bulan. Saat ini, 56 persen dari total konsumsi solar nasional telah menggunakan campuran B50. Target ini disampaikan Bahlil saat melaporkan perkembangan implementasi B50 kepada Presiden Prabowo Subianto dalam acara Peresmian dan Peluncuran Bahan Bakar Biodiesel B50 di Cikampek, Kamis, 9 Juli 2026.

Transisi Dua Bulan dan Penghabisan Stok B40

Bahlil menjelaskan, masa transisi dua bulan tersebut akan dimanfaatkan untuk menghabiskan stok B40 yang masih beredar di pasaran. Setelah stok habis, seluruh distribusi solar akan menggunakan campuran biodiesel B50. "Dan ini Bapak, transisi dua bulan saja. Jadi sekarang ini sudah dipakai 56 persen dari total solar yang sudah jalan. Jadi nanti dua bulan B40-nya habis, dua bulan transisi, semuanya sudah pakai B50," kata Bahlil.

Potensi Hemat Devisa Hingga Rp170 Triliun

Selain memperluas penyerapan minyak sawit mentah (CPO) di dalam negeri, implementasi B50 diproyeksikan meningkatkan efisiensi devisa negara secara signifikan. Sebagai perbandingan, program B40 sebelumnya mampu menghemat devisa sekitar Rp133 triliun. "Nah dengan implementasi B50, kita hemat devisa hingga Rp170 triliun. Jadi dari B40 ke B50 kita bisa menahan devisa kita Rp170 triliun, jadi ini semakin impor kita berkurang," ujarnya. Lebih lanjut, Bahlil memaparkan bahwa implementasi B50 diperkirakan akan meningkatkan nilai tambah industri CPO dari Rp20,92 triliun menjadi Rp23,49 triliun. Dari sisi ketenagakerjaan, program ini diproyeksikan meningkatkan penyerapan tenaga kerja dari sekitar 1,8 juta orang pada implementasi B40 menjadi sekitar 2,1 juta orang melalui B50.

Penurunan Emisi dan Penguatan Kedaulatan Energi

Manfaat B50 tidak hanya berhenti pada aspek ekonomi. Bahlil menyebut, program ini juga berkontribusi terhadap penurunan emisi gas rumah kaca. Pengurangan emisi diperkirakan meningkat dari 39,66 juta ton karbon dioksida (CO2) menjadi sekitar 44,56 juta ton CO2. Menurut Bahlil, B50 bukan sekadar campuran bahan bakar fosil dan nabati. Lebih dari itu, langkah ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam memanfaatkan sumber daya domestik untuk memperkuat ketahanan dan kedaulatan energi nasional. "B50 bukan sekadar perpaduan bahan bakar fosil dan nabati. B50 adalah perpaduan antara keberanian mengambil keputusan, keberpihakan kepada rakyat, dan keyakinan Indonesia mampu berdiri di atas sumber dayanya sendiri," tegas Bahlil.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar