PARADAPOS.COM - Anggota Fraksi NasDem DPR RI, Arif Rahman, menerima audiensi perwakilan Himpunan Mahasiswa FISIP se-Indonesia di kompleks parlemen Senayan, Jakarta, pada Selasa, 18 Agustus 2026. Pertemuan yang berlangsung tertutup ini membahas strategi konkret bagi mahasiswa untuk mengisi kemerdekaan, tidak hanya melalui aksi demonstrasi, tetapi juga lewat program kerja nyata yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Arif menyebut ada 60 kampus yang tergabung, namun yang hadir hanya perwakilan ketua umum dari sejumlah universitas di Jakarta.
Suasana ruang pertemuan di lantai dasar gedung DPR itu tampak hangat. Para mahasiswa yang datang dengan atribut almamater masing-masing duduk melingkar, sesekali mencatat poin-poin penting yang disampaikan. Di sela-sela diskusi, Arif yang juga anggota Komisi II itu menyempatkan diri berbincang santai dengan para ketua umum sebelum sesi resmi dimulai.
Peran Mahasiswa: Dari Aksi ke Aksi Nyata
Dalam keterangannya usai pertemuan, Arif mengungkapkan bahwa gelombang aspirasi mahasiswa saat ini telah bergeser. Menurutnya, mahasiswa tidak lagi puas hanya dengan turun ke jalan menyuarakan pendapat. Mereka ingin melihat hasil yang lebih konkret di tengah masyarakat.
"Tadi kita ketemu Himpunan Mahasiswa FISIP se-Indonesia, dari 60 kampus. Tapi tadi diwakili oleh beberapa ketua umum dari beberapa kampus di Jakarta," ujar Arif ditemui di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (18/8/2026).
Ia mencontohkan dinamika yang terjadi di kampus-kampus akhir-akhir ini. Aksi demonstrasi tetap ada, seperti yang dilakukan BEM UI dengan tema "Merebut Kemerdekaan", namun semangatnya berbeda. Mahasiswa kini mencari jalan tengah antara kritik dan partisipasi aktif dalam pembangunan.
"Sekarang banyak mahasiswa yang aksi. Hari ini ada BEM UI, temanya merebut kemerdekaan. Nah, teman-teman datang ke kita, ke Fraksi NasDem, dalam rangka bagaimana mahasiswa ke depan bisa mengisi kemerdekaan," katanya.
Gagasan Konkret dari Kawasan Timur Indonesia
Pertemuan itu tidak sekadar seremonial. Arif menuturkan, para mahasiswa menyampaikan sejumlah gagasan yang dinilainya matang dan bisa langsung dieksekusi. Beberapa usulan bahkan sudah menyentuh persoalan ekologis yang tengah hangat dibicarakan di daerah asal mereka.
Salah satu usulan yang paling menarik perhatian datang dari mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar. Mereka membawa proposal program penanaman pohon dalam skala besar. Usulan ini lahir dari keprihatinan terhadap kondisi lingkungan di Sulawesi Selatan yang kian kritis.
"Karena di daerah mereka, di Sulawesi Selatan, banyak sekali sekarang pertambangan. Jadi banyak hutan-hutan yang mulai gundul," jelas Arif.
Arif mengapresiasi langkah mahasiswa yang tidak hanya datang dengan keluhan, tetapi juga membawa solusi. Menurutnya, kolaborasi antara legislatif, eksekutif, dan kampus menjadi kunci agar gagasan-gagasan seperti ini bisa direalisasikan. Ia berjanji akan menindaklanjuti usulan tersebut dalam rapat-rapat komisi maupun melalui koordinasi dengan kementerian terkait.
Ia menambahkan, semangat mengisi kemerdekaan tidak harus selalu diartikan dengan hal-hal besar. Aksi nyata seperti menanam pohon, mengajar di daerah tertinggal, atau membantu UMKM lokal adalah bentuk kontribusi yang sama berharganya dengan menyuarakan pendapat di jalanan. "Ini yang kami dorong," pungkasnya.
Artikel Terkait
Pengamat: Perang Melawan Korupsi Jangan Sampai Kalahkan Hukum Itu Sendiri
Ratusan Warga Padati Ancol Ikuti Lomba Panjat Pinang HUT ke-81 RI, Warga Jepang Ikut Serta
Indonesia Bawa Kearifan Lokal Subak hingga Sasi Lompa ke Forum BRICS sebagai Strategi Hadapi Krisis Iklim
HUT ke-81 RI di Jenewa: Ribuan WNI dan Diaspora Peringati Kemerdekaan, Sekaligus Solidaritas untuk Korban Gempa NTT