PARADAPOS.COM - Anggota Komisi VIII DPR RI, Lisda Hendrajoni, menegaskan bahwa peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia harus dimaknai sebagai momentum untuk mendorong kesetaraan akses pendidikan, kesejahteraan, dan kemandirian, khususnya bagi perempuan. Dalam refleksinya, Lisda menyoroti peran strategis perempuan dalam pembangunan nasional, terutama melalui penguasaan teknologi dan penguatan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Pernyataan ini disampaikan di Jakarta sebagai bagian dari peringatan kemerdekaan, menekankan bahwa semangat kemerdekaan tidak hanya berhenti pada bebas dari penjajahan, tetapi juga mencakup pemberdayaan ekonomi dan pemenuhan amanat konstitusi.
Menurut Lisda, perayaan kemerdekaan kerap kali hanya dipahami sebagai seremoni tahunan. Padahal, esensi dari kemerdekaan itu sendiri adalah bagaimana setiap warga negara bisa merasakan dampak nyata dari pembangunan. Ia menilai, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama dalam hal pemerataan pendidikan dan kesempatan ekonomi.
“Semangat kemerdekaan harus kita maknai lebih luas. Bukan hanya bebas dari penjajahan, tetapi bagaimana setiap warga negara memiliki kesempatan mendapatkan pendidikan, meningkatkan kesejahteraan dan berkembang secara mandiri,” ujar Lisda dalam refleksinya memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kemerdekaan akan kehilangan makna jika masih ada kelompok masyarakat yang tertinggal. Oleh karena itu, momen HUT ke-81 RI ini dinilainya tepat untuk mengevaluasi sejauh mana pembangunan yang telah berjalan mampu menyentuh seluruh lapisan masyarakat, tanpa terkecuali.
Perempuan Punya Peran Strategis dalam Pembangunan
Lisda menilai perempuan memiliki posisi yang tidak bisa dianggap remeh dalam pembangunan nasional. Peran mereka tidak lagi terbatas pada lingkup domestik, melainkan sudah merambah ke sektor publik, terutama dalam aktivitas ekonomi masyarakat.
Salah satu bukti nyata kontribusi perempuan adalah dominasi mereka di sektor UMKM. Banyak perempuan yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga melalui usaha yang mereka rintis dan kelola sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan memiliki efek berantai terhadap kesejahteraan rumah tangga.
“Ketika perempuan memiliki ilmu, pengetahuan dan keterampilan, mereka bisa mengambil peran lebih besar, termasuk dalam memperkuat ekonomi keluarga dan UMKM,” katanya.
Menurut Lisda, kemerdekaan akan kehilangan makna apabila masih ada masyarakat yang kesulitan memperoleh pendidikan, pekerjaan maupun kesempatan untuk meningkatkan taraf hidup. Karena itu, ia mengingatkan bahwa perjuangan untuk memaknai kemerdekaan tidak boleh berhenti di titik ini saja.
Hal tersebut juga berkaitan dengan amanat Pasal 33 UUD 1945 yang menempatkan perekonomian nasional sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan. Lisda menegaskan bahwa semangat pasal tersebut harus diwujudkan dalam kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil.
“Semangat Pasal 33 adalah bagaimana kekayaan dan perekonomian bangsa digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Karena itu, pemberdayaan perempuan juga menjadi bagian penting dari upaya mewujudkan amanat konstitusi tersebut,” ujar Lisda.
Perjuangan Perempuan di Era Kemerdekaan Berubah
Lisda menggarisbawahi bahwa tantangan yang dihadapi perempuan hari ini sangat berbeda dengan perjuangan para pahlawan perempuan di masa lampau. Dahulu, musuh yang dihadapi adalah penjajah yang datang dengan senjata. Kini, tantangan tersebut menjelma dalam bentuk ketimpangan akses teknologi dan kesenjangan keterampilan.
Jika dahulu perjuangan dilakukan untuk merebut kemerdekaan dari penjajahan, generasi saat ini memiliki tantangan lain. Perjuangan tersebut dapat diwujudkan melalui peningkatan pendidikan, keterampilan, kemandirian ekonomi serta kemampuan menguasai teknologi. Menurutnya, adaptasi terhadap perubahan zaman adalah sebuah keniscayaan yang harus dihadapi dengan keberanian.
Perempuan, menurut Lisda, harus memiliki kesiapan menghadapi perubahan yang berlangsung semakin cepat. Ia menekankan bahwa di era digital ini, perempuan tidak boleh tertinggal dan hanya menjadi penonton pasif atas laju perkembangan zaman.
“Perempuan harus cerdas, kreatif, kritis dan inovatif. Kita tidak boleh hanya menjadi penonton di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat,” katanya.
Ia menutup refleksinya dengan harapan agar semangat kemerdekaan mampu membakar semangat kolektif untuk membangun bangsa, dimulai dari pemberdayaan perempuan di akar rumput. Menurutnya, ketika perempuan berdaya, maka keluarga akan kuat, dan ketika keluarga kuat, maka bangsa akan kokoh berdiri.
Artikel Terkait
Vale Indonesia Investasi Lebih dari USD450 Juta untuk Energi Terbarukan Gantikan Opsi Batu Bara
Rosan Roeslani Hadiri Resepsi HUT Singapura ke-61, Tekankan Komitmen Perkuat Kerja Sama Bilateral Menuju 60 Tahun Diplomasi
Gempa NTT Rusak 502 Sekolah, 177 Ribu Murid Terdampak
Gempa NTT: Korban Jiwa Bertambah Jadi 75 Orang, 92.735 Warga Mengungsi