Mantan Ketua BEM UGM Kritik Prabowo: Dukungan Hanya dari Kalangan Dekat Kekuasaan, Soroti Bahaya Program MBG

- Rabu, 19 Agustus 2026 | 09:25 WIB
Mantan Ketua BEM UGM Kritik Prabowo: Dukungan Hanya dari Kalangan Dekat Kekuasaan, Soroti Bahaya Program MBG

PARADAPOS.COM - Mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto, melontarkan kritik tajam terhadap Presiden Prabowo Subianto. Kritik tersebut menyangkut asumsi presiden mengenai tingginya tingkat kecintaan masyarakat terhadap pemerintahannya. Tiyo menilai penilaian itu keliru dan tidak mencerminkan kondisi riil di lapangan. Ia justru berpendapat bahwa dukungan yang diterima pemerintah hanya berasal dari kalangan tertentu yang dekat dengan kekuasaan.

Pernyataan ini disampaikan Tiyo melalui akun media sosial pribadinya, merespons berbagai dinamika politik dan kebijakan yang berjalan belakangan ini. Lebih jauh, ia juga mengaitkan kritiknya dengan persoalan pelaksanaan program prioritas pemerintah, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam pandangannya, program yang digadang-gadang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia ini justru memunculkan persoalan serius di lapangan.

Kritik Terkait Persepsi Dukungan Publik

Tiyo secara spesifik menyoroti bagaimana pemerintah mungkin saja salah membaca sinyal dukungan dari masyarakat. Menurut pengamatannya, ada perbedaan besar antara popularitas yang terukur dan penerimaan yang tulus dari akar rumput. Ia menegaskan bahwa pujian yang diterima penguasa belum tentu merepresentasikan suara mayoritas rakyat.

"Dia mengira dicintai rakyat, padahal hanya dipuja para penjilat," kata Tiyo dalam keterangannya di akun media sosialnya.

Pernyataan tegas tersebut menjadi pembuka bagi rangkaian kritik yang lebih luas terhadap arah kebijakan pemerintah saat ini.

Keprihatinan atas Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis

Selain menyoroti persepsi dukungan, Tiyo juga mengarahkan perhatiannya pada implementasi program MBG di berbagai daerah. Ia mengutip pandangan dari penyair yang hilang, Wiji Thukul, untuk mengilustrasikan kegelisahannya mengenai makna kemerdekaan dan keadilan sosial. Baginya, persoalan yang muncul dalam pelaksanaan MBG bukan sekadar masalah teknis, melainkan telah menyentuh aspek keselamatan anak-anak sebagai penerima manfaat.

Tiyo menilai persoalan dalam pelaksanaan MBG telah menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan anak-anak penerima program tersebut. Ia menyoroti sejumlah insiden yang dilaporkan terjadi di lapangan, yang menurutnya tidak bisa dianggap remeh.

"Sekarang keadaannya lebih ngeri, Mas Wiji, nasi kalau jadi t itu, kan, alamiah dan fitrah, tapi yang terjadi malah nasi (MBG) dimakan terancam mati," ujar Tiyo.

Ia kemudian menyebut lebih dari 40 ribu anak Indonesia mengalami trauma dan terancam keselamatannya akibat persoalan yang dikaitkannya dengan pelaksanaan program MBG. Angka tersebut, menurutnya, merupakan sinyal bahaya yang tidak boleh diabaikan oleh para pengambil kebijakan.

Kritik terhadap Desain Kebijakan dan Upaya Pembelaan Diri

Lebih lanjut, Tiyo menekankan bahwa kesalahan dalam pelaksanaan program tidak semestinya hanya dibebankan kepada pengelola di lapangan. Ia menilai persoalan itu berkaitan dengan desain dan kebijakan yang dibuat oleh pihak yang memiliki kewenangan. Menurutnya, ada kecenderungan untuk mencari kambing hitam di tingkat bawah ketika program menghadapi masalah, padahal akar persoalannya bisa jadi berasal dari perencanaan yang kurang matang di tingkat atas.

"Orang-orang itu menyalahkan pengelola di lapangan dan sok lupa bahwa kesalahan-kesalahan itu mereka sendirilah yang menciptakan celahnya," katanya.

Pernyataan ini menunjukkan adanya kekhawatiran bahwa praktik tersebut akan terus berulang dan menghambat perbaikan yang sesungguhnya dibutuhkan.

Metafora Api untuk Menggambarkan Risiko Kebijakan

Di akhir pernyataannya, Tiyo menggunakan metafora api untuk menggambarkan risiko dari kebijakan yang menurutnya tidak dikelola dengan baik. Ia memperingatkan bahwa persoalan tersebut pada akhirnya dapat berbalik menjadi masalah bagi pihak yang membuat kebijakan. Analogi ini digunakan untuk menekankan bahwa setiap keputusan yang diambil tanpa perhitungan matang akan memiliki konsekuensi yang tidak diinginkan.

"Mereka bermain api, Mas Wiji, tapi belum sadar api yang ia pakai untuk menakut-nakuti akan segera membakar diri mereka sendiri. Segera. Segeralah. Tak lama lagi," ujar Tiyo.

Peringatan keras ini sekaligus menjadi penutup dari rangkaian kritik yang disampaikan oleh mantan aktivis mahasiswa tersebut. Ia berharap agar pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh sebelum persoalan yang ada semakin membesar dan sulit dikendalikan.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar