PARADAPOS.COM - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah korban meninggal akibat gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) bertambah menjadi 71 orang per Rabu, 19 Agustus 2026. Penambahan satu korban tercatat di Kabupaten Nagekeo, disampaikan langsung oleh Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Berton SP Pandjaitan, dalam konferensi pers pembaruan penanganan bencana. Selain update korban, lembaga tersebut juga memaparkan progres distribusi logistik yang telah mencapai 398 ton melalui jalur udara, darat, dan laut untuk wilayah terdampak.
Pernyataan resmi tersebut mengonfirmasi bahwa proses evakuasi dan pendataan masih terus berjalan di lapangan. Hingga saat ini, pemerintah pusat bersama jajaran kementerian dan lembaga terkait masih berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi yang tersebar di sejumlah titik pengungsian.
Korban Jiwa Bertambah dan Ucapan Duka
Dalam keterangannya, Berton menyampaikan rasa duka mendalam atas bertambahnya korban jiwa. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada penanganan fisik, tetapi juga memberikan perhatian penuh kepada keluarga yang ditinggalkan.
"Jumlah korban ada bertambah satu orang menjadi 71 yaitu di Kabupaten Nagakheo. Kami, sekenap pemerintah maupun dari kementerian lembaga yang ada bersama-sama saat ini mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya handai tolan kita, keluarga kita yang saat ini ada di tempat-tempat pengusian maupun daerah terdampak di NTT ini," ujar Berton dalam konferensi pers, Rabu, 19 Agustus 2026.
Distribusi Bantuan Logistik Terus Mengalir
Di tengah duka, upaya pemenuhan logistik bagi para penyintas terus digencarkan. BNPB mencatat telah terjadi pengiriman bantuan dalam jumlah signifikan melalui jalur udara dalam beberapa hari terakhir. Hingga Selasa, 18 Agustus 2026 pukul 18.00 WIB, tercatat sebanyak 165 ton bantuan telah berhasil dikirim menggunakan moda transportasi udara.
"Baik, kami akan menyampaikan bahwa kemarin jam pukul 18 waktu Indonesia bagian Barat distribusi logistik via udara telah dilakukan dengan total sebanyak 165 ton," kata Berton.
Angka tersebut merupakan bagian dari total keseluruhan bantuan yang terkirim sejak awal tanggap darurat. Secara kumulatif, sejak 15 hingga 18 Agustus 2026, total barang bantuan yang telah disalurkan mencapai 398 ton. "Total barang bantuan yang terkirim dari tanggal 15 sampai dengan 18 Agustus sebanyak 398 ton," ujarnya.
Tantangan Geografis di Pulau Flores
Meski bantuan mengalir, proses distribusi di lapangan tidak berjalan tanpa hambatan. Berton menjelaskan bahwa jalur darat tetap menjadi tulang punggung utama untuk mengangkut logistik dari titik pusat menuju lokasi pengungsian. Namun, kondisi geografis Pulau Flores yang berbukit dan terjal, ditambah dengan sejumlah ruas jalan yang rusak akibat gempa, memaksa petugas untuk bekerja secara ekstra hati-hati.
"Adapun bantuan tersebut dapat dikirimkan melalui jalur darat tetap menjadi salah satu moda utama kami untuk mendistribusikan bantuan dari titik logistik menuju lokasi pengusian. Namun, kita perlu pahami bahwa karakter geografis flores dan kondisi sejumlah ruas jalan yang membuat distribusi ini menjadi pelan karena memang dilakukan secara bertahap dan menyesuaikan kondisi akses hingga ke kecamatan sampai ke titik pengusian," jelas Berton.
Para petugas gabungan terpaksa melakukan pengiriman secara bertahap dan menyesuaikan ritme perjalanan dengan kondisi akses jalan. Hal ini dilakukan untuk memastikan bantuan tiba dengan selamat di kecamatan-kecamatan terpencil hingga ke titik-titik pengungsian yang tersebar.
Optimalisasi Jalur Laut untuk Wilayah Terpencil
Untuk menjangkau area yang membutuhkan pasokan dalam jumlah besar dan sulit diakses melalui darat, pemerintah mengerahkan moda transportasi laut. Langkah ini diambil untuk mempercepat pengiriman logistik berskala besar, terutama ke kabupaten yang berada di pesisir.
Sebagai bentuk nyata dari upaya tersebut, KRI Bung Hatta diberangkatkan dari Pelabuhan Labuan Bajo menuju Pelabuhan Reo di Kabupaten Manggarai pada 18 Agustus 2026. Kapal perang Republik Indonesia itu membawa berbagai kebutuhan pokok bagi para pengungsi.
"Kaberi Bung Hatta diberangkatkan dari Pelabuhan Labuan Bajo menuju Pelabuhan Reop di Kabupaten Manggarai membawa paket bantuan sembako, tenda keluarga, tenda pengungsi, dan seluruh bantuan yang berasal dari masyarakat," ujar Berton.
Setibanya di Pelabuhan Reo, bantuan tersebut selanjutnya akan didistribusikan lebih lanjut untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak di Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Manggarai Timur. "Pada tanggal 18 Agustus, Kaberi Bung Hatta diberangkatkan dari Pelabuhan Labuan Bajo menuju Pelabuhan Reop di Kabupaten Manggarai membawa paket bantuan sembako, tenda keluarga, tenda pengungsi, dan seluruh bantuan yang berasal dari masyarakat. Dukungan ini selanjutnya didistribusikan ke Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Manggarai Timur," tutur Berton.
Dengan dikerahkannya berbagai moda transportasi tersebut, BNPB berharap seluruh kebutuhan dasar warga terdampak dapat segera terpenuhi, sekaligus mempercepat proses pemulihan pasca-bencana di wilayah NTT.
Artikel Terkait
BNPB: 59.647 Warga NTT Masih Bertahan di Pengungsian, Manggarai Terbanyak
Pakar Hukum: Wacana Amnesti Koruptor BUMN Berisiko Rusak Pemberantasan Korupsi
BMKG Peringatkan Hujan Lebat dan Angin Kencang di Sejumlah Wilayah hingga 24 Agustus
UNG Resmikan Unit Layanan Disabilitas untuk Wujudkan Kampus Inklusif di Gorontalo