PARADAPOS.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat total 2.403 kali gempa bumi susulan mengguncang kawasan Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga Selasa malam, 18 Agustus 2026. Rentetan getaran ini merupakan lanjutan dari gempa utama bermagnitudo 7,7 yang memicu kerusakan signifikan di enam kabupaten dan menewaskan sedikitnya 70 orang. Data yang dirilis BMKG menunjukkan variasi kekuatan gempa susulan mulai dari magnitudo terkecil 1,3 hingga yang terbesar mencapai 6,2.
Angka tersebut bukan sekadar statistik. Dari ribuan kali getaran yang terekam instrumen seismograf, sebanyak 24 kali gempa memiliki magnitudo di atas 5,0. Yang lebih relevan bagi warga, ada 72 kejadian guncangan yang kekuatannya cukup untuk dirasakan langsung oleh masyarakat di permukaan.
Zona Tektonik yang Masih Aktif
Aktivitas seismik yang masih berlangsung ini berasal dari zona tektonik Flores Back-Arc, sebuah area yang dikenal sebagai salah satu sumber gempa paling produktif di Indonesia bagian timur. Kondisi ini menuntut kewaspadaan berkelanjutan, terutama bagi mereka yang tinggal di Pulau Flores dan daerah sekitarnya.
Menghadapi situasi yang belum stabil ini, BMKG mengeluarkan imbauan tegas kepada warga terdampak. Masyarakat diminta untuk tidak menempati bangunan atau rumah yang sudah mengalami retakan struktural. "Dipastikan tidak aman guna menghindari risiko kerobohan akibat guncangan susulan," demikian peringatan yang disampaikan pihak BMKG kepada publik.
Imbauan dan Data Korban
Selain soal bangunan, masyarakat juga diminta untuk tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh isu atau hoaks kebencanaan yang sumbernya tidak jelas. BMKG mendorong warga untuk selalu memperbarui informasi tektonik resmi melalui aplikasi dan kanal komunikasi terverifikasi milik lembaga tersebut.
Sementara itu, data dari Pusat Data Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) per Selasa malam, 18 Agustus 2026, melaporkan jumlah korban jiwa mencapai 70 orang. Selain itu, tercatat 230 orang mengalami luka berat dan 308 orang lainnya menderita luka ringan akibat peristiwa ini.
Para korban tersebar di enam kabupaten yang mengalami guncangan paling parah, yaitu Manggarai Timur, Manggarai, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka. Wilayah-wilayah ini dilaporkan merasakan intensitas guncangan maksimum mencapai skala VII-VIII MMI saat gempa utama terjadi pada 15 Agustus 2026 lalu.
Artikel Terkait
152 Pekerja Migran Lebak Diberangkatkan ke 14 Negara Sepanjang 2026
BI Sebut Era Suku Bunga Tinggi AS Masih Bayangi Pasar Keuangan Global
Dua Eks Karyawan PLN Papua Barat Daya Somasi dan Lapor ke Polda soal Dugaan Hak Anggota Koperasi Swakarya Tak Dibayar
DJP dan Polda Metro Jaya Bekuk 16 Tersangka Sindikat Meterai Ilegal, Negara Rugi Hingga Rp1 Triliun