Trump Sindir Uji Coba Rudal Nuklir Rusia: Perang Ukraina Harusnya Selesai
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan kritik tajam terhadap Vladimir Putin menyusul uji coba rudal nuklir Burevestnik Rusia. Trump menilai langkah ini tidak pantas dan menunjukkan fokus Moskow yang salah di tengah perang Ukraina yang telah berlangsung hampir 4 tahun.
Komentar Trump Soal Uji Coba Rudal dan Perang Ukraina
"Anda seharusnya mengakhiri perang. Perang yang seharusnya berlangsung selama satu minggu kini akan memasuki tahun keempat," kata Trump seperti dikutip dari The Washington Post. "Itulah yang seharusnya Anda lakukan ketimbang menguji coba rudal," tegasnya.
Pernyataan Trump ini merupakan respons langsung atas pengumuman Putin mengenai keberhasilan uji coba rudal jelajah bertenaga nuklir Burevestnik. Putin mengklaim rudal ini mampu mencapai target sejauh 14.000 km dan menyebutnya sebagai "produk unik" yang tak tertandingi di dunia.
Kemampuan Nuklir AS vs Rusia Menurut Trump
Trump memandang klaim Putin tersebut berlebihan. Mantan presiden AS ini menegaskan Amerika Serikat juga memiliki kemampuan nuklir yang lebih praktis dan siap siaga, termasuk kapal selam nuklir yang telah ditempatkan di lepas pantai Rusia.
"Kapal selam itu tidak perlu menempuh jarak 14.000 kilometer untuk mencapai Rusia," ujarnya dengan nada menyindir.
Profil Rudal Burevestnik atau Skyfall
Rudal Burevestnik, yang dikenal NATO dengan kode Skyfall, pertama kali diperkenalkan Putin pada 2018 sebagai bagian dari enam senjata strategis baru Rusia. Senjata ini dirancang untuk membawa hulu ledak nuklir dengan jangkauan hampir tak terbatas berkat sistem tenaga nuklir mini di dalamnya.
Meski demikian, pengembangan Burevestnik tidak selalu mulus. Sejumlah uji coba sebelumnya dilaporkan gagal dan menimbulkan kekhawatiran radiasi di wilayah utara Rusia.
Konteks Perang Ukraina yang Berlarut-larut
Komentar Trump menjadi sorotan karena mengaitkan uji coba rudal nuklir dengan kegagalan Rusia mengakhiri perang di Ukraina yang dimulai sejak Februari 2022. Trump berulang kali menyatakan perang tersebut seharusnya "tidak pernah terjadi" dan jika dirinya masih menjabat presiden, konflik itu "akan berakhir dalam seminggu".
Kini, hampir memasuki tahun keempat, perang antara Rusia dan Ukraina justru semakin kompleks dengan melibatkan dukungan militer besar-besaran dari negara-negara Barat dan memicu ketegangan geopolitik di Eropa Timur.
Artikel Terkait
Kemendikdasmen dan Kemenpora Perkuat Kolaborasi untuk Pembinaan Olahraga Pelajar
BMKG Peringatkan Potensi Hujan Lebat hingga Sangat Lebat di Sejumlah Provinsi
Anggota DPR Kecaman Keras Serangan Air Keras terhadap Aktivis Andrie Yunus
Ganda Campuran Indonesia Tumbang di Semifinal Swiss Open 2026