"Kalau misalkan Pak Jokowi menikmati isu ini, dan tidak berbuat apa-apa, bisa jadi kita melihatnya isu ini justru menguntungkan buat keluarga Jokowi," ujarnya.
Keuntungan utama yang dimaksud adalah terpeliharanya polarisasi di masyarakat. Dalam kondisi terpolarisasi, kelompok pendukung fanatik Jokowi akan tetap terikat secara emosional dan aktif melakukan pembelaan.
Kekuatan Emosional Publik dan Implikasi Elektoral
Nurul Fatta menambahkan bahwa karakter publik Indonesia yang mudah tersentuh secara emosional membuat isu seperti ini memiliki daya tahan panjang di ruang publik. Loyalitas emosional ini, jika terus dipelihara, akan menjaga ingatan dan dukungan sebagian masyarakat terhadap Jokowi.
Lebih jauh, kondisi ini dinilai dapat dimanfaatkan sebagai basis dukungan politik pada kontestasi elektoral di masa mendatang. "Sehingga, kelompok masyarakat yang seperti ini masih bisa dijadikan ceruk suara dalam politik elektoral nanti," pungkas Nurul Fatta.
Artikel Terkait
Ijazah Jokowi Pakai Materai Rp100, Sah atau Tidak? Ini Klarifikasi Lengkap PSI
Kunjungan Rahasia Eggi Sudjana dan Damai Lubis ke Jokowi Disebut Aib Besar, Ini Fakta Lengkapnya
Analisis Kontroversi Mens Rea Pandji Pragiwaksono: Tudingan Antek Asing & Reaksi Publik
Strategi PDIP 2026-2029: Analisis Posisi Penyeimbang & Peluang Koalisi dengan Prabowo