BANDUNG INSIDER - Dalam sebuah momentum bersejarah, ribuan Advokat Indonesia bersatu di Gedung Balai Kartini untuk mendeklarasikan dukungan tulus kepada paslon nomor urut 2, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
Sorak sorai meriah memenuhi Balai Kartini saat Prabowo Subianto tiba, dihadiri oleh para Advokat dari berbagai lapisan pendidikan. Keberagaman pendidikan ini menjadi bukti kecintaan mereka kepada negara dan kepada Prabowo.
Aliansi Advokat Indonesia merangkul 40 ribu Advokat dari 23 provinsi, membuktikan bahwa kecintaan pada negara mengalahkan motif politik semata. Kebersamaan mereka menjadi cermin peran profesi dalam memajukan negara.
Gedung Balai Kartini menjadi saksi sejarah saat ribuan Advokat dari Aliansi Advokat Indonesia secara masif mendeklarasikan dukungan mereka untuk pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka pada Jumat, 26 Januari 2024.
Acara deklarasi ini menjadi momentum bersejarah karena melibatkan Advokat dari berbagai latar belakang pendidikan, seperti Profesor, Doktor, Magister, dan Sarjana.
Kedatangan Prabowo Subianto sekitar pukul 16.25 wib disambut dengan antusiasme tinggi.
Baca Juga: Pertemuan Kardinal Suharyo dan Prabowo: Kesatuan, Persatuan, dan Kerukunan Menjelang Pemilu 2024
Teriakan "Prabowo, Prabowo, presiden, satu putaran" menggema di ruangan, menciptakan suasana yang penuh semangat.
Senyuman Prabowo menyambut sorakan ini menjadi simbol kebersamaan yang erat antara paslon dan para Advokat yang mendukungnya.
Ketua Umum Aliansi Advokat Indonesia, Otto Hasibuan, menyampaikan bahwa para tokoh Advokat yang hadir berasal dari berbagai tingkatan pendidikan.
Menurutnya, mengumpulkan Advokat dengan latar belakang yang beragam bukanlah tugas yang mudah.
Otto mengungkapkan bahwa biasanya, pertanyaan yang muncul adalah seberapa besar honorarium yang akan diterima.
Namun, dalam acara ini, para Advokat datang dengan kesediaan untuk menawarkan dukungan mereka tanpa meminta bayaran.
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: jakartainsider.id
Artikel Terkait
Hasto Kritisi Pasal 33 UUD 1945: Kekayaan Alam Papua dan Aceh Tak Sebanding dengan Tingkat Kemiskinan Rakyat
Hasto Kristiyanto Kritik Demokrasi Sentralistik dan Sistem Hukum di Peringatan Hari Lahir Pancasila
Hasto Kristiyanto Sebut Indonesia Berubah Jadi Negara Otoriter Populis di Periode Kedua Jokowi
Megawati Berduka: Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia, Sang Jenderal Tegas dan Negarawan Sejati