Data otentik ini menunjukkan bahwa dugaan manipulasi data sejarah tidak berdasar.
Sementara itu, Aida Greenbury, putri dari Prof. Achmad Sumitro yang juga alumnus UGM dan dikenal sebagai tokoh kehutanan internasional, ikut angkat suara.
Ia mempertanyakan keabsahan skripsi Jokowi yang mencantumkan nama pembimbing dengan ejaan “Soemitro” — bentuk lama yang tidak sesuai dengan nama ayahnya.
Ia menilai ketidaksesuaian ejaan ini bukan sekadar typo, tapi dapat mencerminkan potensi kekeliruan administratif yang lebih dalam.
Aida juga menegaskan bahwa ayahnya menjabat sebagai dekan hingga 1986, sehingga logikanya, bila Jokowi lulus pada 1985, maka tidak semestinya nama dekan lain yang tercantum di ijazah.
Ia juga menyayangkan bahwa narasi resmi UGM tidak berpijak pada dokumentasi akademik yang dapat diverifikasi secara ilmiah.
Sementara itu, pernyataan dari Ir. Kasmudjo yang disebut sebagai dosen pembimbing skripsi Jokowi pun menambah kontroversi.
Ia membantah pernah membimbing Jokowi, semakin memperkeruh persoalan integritas dokumen akademik tersebut.
Dengan hadirnya bukti dokumenter berupa karya akademik Ekonomi Sumber Daya Hutan, cocoklogi tentang siapa dekan saat Jokowi kuliah terjawab sudah.
Fakta sejarah yang termuat dalam literatur akademik resmi kini menjadi penyanggah yang solid terhadap tuduhan-tuduhan liar.
Sumber: Sawitku
Artikel Terkait
Pertemuan Prabowo dengan Abraham Samad & Tokoh Nasional: Istana Bukan Oposisi, Tapi Diskusi Bangsa
Said Didu Ungkap Prabowo Sepakat Rebut Kedaulatan dari Oligarki, Target Geng Solo
Strategi Politik Jokowi: Dukungan ke PSI Kaesang & Proyeksi Gibran di Pilpres 2029-2034
Dokter Tifa Kritik Jokowi di Rakernas PSI: Strategi Playing Victim atau Kondisi Kesehatan?