Bobibos, Bahan Bakar Nabati dari Limbah Jerami, Diklaim Setara RON 98 dan Dijual Lebih Murah dari Pertalite

- Kamis, 30 April 2026 | 16:50 WIB
Bobibos, Bahan Bakar Nabati dari Limbah Jerami, Diklaim Setara RON 98 dan Dijual Lebih Murah dari Pertalite
PARADAPOS.COM - Sebuah inovasi bahan bakar nabati bernama Bobibos, yang merupakan singkatan dari Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos!, mulai menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Bahan bakar ini diklaim mampu menjawab tantangan fluktuasi harga energi global dengan menawarkan kualitas setara bahan bakar beroktan tinggi, namun dengan harga yang jauh lebih murah dari bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sekalipun. Berdasarkan hasil uji laboratorium, produk ini telah memasuki tahap produksi massal dan mendapat lampu hijau dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk dikembangkan sebagai energi alternatif ramah lingkungan.

Kualitas Setara BBM Mahal

Banyak pihak mungkin tidak menyangka bahwa bahan bakar yang berasal dari limbah nabati bisa memiliki performa setinggi ini. Berdasarkan hasil uji laboratorium Lembaga Minyak dan Gas Bumi (Lemigas), Bobibos memiliki angka oktan atau RON mencapai 98,1. Metode uji yang digunakan adalah standar internasional ASTM D 2699-19e1. Angka ini jauh melampaui standar bensin yang biasa kita gunakan sehari-hari. Kualitasnya bahkan disebut setara dengan bahan bakar kelas atas yang selama ini dijual dengan harga mahal di pasaran. Di jalanan, performanya diklaim mampu menyaingi produk-produk premium yang kerap menjadi pilihan pengguna kendaraan berperforma tinggi.

Harga yang Membuat Melongo

Meskipun kualitasnya setara dengan BBM mahal, banderol harga Bobibos justru sangat rendah. Jika BBM dengan RON 98 di pasaran biasanya dijual seharga Rp15.000 hingga Rp20.000 per liter, Bobibos hanya dipatok di kisaran Rp4.000 sampai Rp5.000 per liter. Yang lebih mengejutkan lagi, harga ini bahkan lebih murah daripada harga Pertalite yang saat ini beredar. Tak heran jika banyak kalangan kemudian menjuluki Bobibos sebagai penyelamat dompet rakyat. Di tengah tekanan ekonomi, kehadiran bahan bakar semurah ini tentu menjadi angin segar bagi para pengendara.

Rahasia di Balik Harga Super Murah

Lalu, apa yang membuat harganya bisa begitu murah? Jawabannya terletak pada bahan baku dan teknologi produksi yang digunakan. Bobibos diproduksi menggunakan bahan baku utama berupa jerami atau limbah sisa panen padi para petani. Limbah pertanian yang selama ini kerap dibakar dan menjadi sumber polusi, kini disulap menjadi sesuatu yang bernilai. Jerami-jerami tersebut kemudian diolah menggunakan mesin biokimia khusus yang dirakit oleh PT Inti Sinergi Formula. Proses produksi yang efisien membuat biaya produksinya sangat rendah, yakni berada di bawah Rp5.000 per liter. Inilah kunci utama yang membuat harga jualnya bisa ditekan serendah mungkin tanpa mengorbankan kualitas.

Dampak Berganda bagi Petani dan Negara

Kehadiran Bobibos tidak hanya menguntungkan pengguna kendaraan, tetapi juga membawa dampak positif bagi para petani. Limbah jerami yang biasanya hanya menjadi sampah atau dibakar begitu saja, kini memiliki nilai ekonomi karena bisa dijual sebagai bahan baku. Ini menjadi tambahan pemasukan yang berarti bagi petani di daerah sentra produksi padi. Dari sisi yang lebih luas, penggunaan Bobibos dapat membantu pemerintah mengurangi ketergantungan pada impor BBM fosil yang selama ini membebani anggaran negara. Inovasi ini juga berpotensi menciptakan lapangan kerja baru di sektor pengolahan limbah pertanian dan meningkatkan perputaran uang di daerah-daerah penghasil bahan baku.

Produksi Massal dan Dukungan Pemerintah

Saat ini, Bobibos sudah memasuki tahap produksi massal. Menariknya, produksi perdana dilakukan di Timor Leste melalui kerja sama dengan mitra lokal di sana. Langkah ini menunjukkan bahwa potensi bahan bakar nabati ini tidak hanya diakui di dalam negeri, tetapi juga mulai dilirik oleh negara tetangga. Di Indonesia sendiri, Kementerian ESDM telah memberikan lampu hijau dan menginstruksikan pengembang untuk fokus pada pengembangan jenis bensin. Pemerintah mulai melihat Bobibos sebagai energi alternatif yang ramah lingkungan karena berasal dari sumber nabati yang dapat diperbarui. Langkah ini dinilai sejalan dengan upaya transisi energi menuju sumber daya yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar