Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI, Supratman Andi Agtas, mengakui bahwa penerapan pasal-pasal ini membutuhkan kehati-hatian agar tidak disalahgunakan untuk membungkam kritik yang sah. Pemerintah mengklaim telah memberikan sosialisasi intensif kepada aparat penegak hukum mengenai batasan "menyerang martabat".
"Memang ada risiko penyalahgunaan, itu tidak bisa kita nafikan. Namun, di sinilah pentingnya pengawasan publik. KUHP ini disusun untuk menyelaraskan hukum dengan nilai budaya kita," ujar Supratman dalam keterangan pers pada Kamis, 1 Januari 2026.
Cakupan Lebih Luas: Dari Ideologi hingga Keadilan Restoratif
KUHP baru setebal 345 halaman ini tidak hanya fokus pada perlindungan martabat pemimpin dan lembaga. Terdapat sejumlah aturan lain yang diperketat, termasuk larangan penyebaran ajaran komunisme atau ideologi lain yang bertentangan dengan Pancasila, dengan ancaman hukuman mencapai empat tahun penjara.
Pemerintah menegaskan bahwa revisi besar-besaran ini mengusung semangat restorative justice (keadilan restoratif) dan dimaksudkan untuk mencerminkan karakter hukum nasional Indonesia yang mandiri, lepas dari bayang-bayang sistem hukum kolonial.
Artikel Terkait
Gatot Nurmantyo Didorong Diperiksa KPK, Dugaan Korupsi Cetak Sawah Rugikan Negara Triliunan
KPK Selidiki Kasus Korupsi Kuota Haji 2024: Tersangka, Kronologi, dan Update Terbaru
Kedekatan Sarjan dengan Gibran di Kasus Suap Bupati Bekasi: KPK Diminta Usut Tuntas
Putri Candrawathi Dapat Remisi Natal 2025: Potongan Masa Hukuman 1 Bulan