Lavrov Sebut Kasus Epstein Cermin Kemerosotan Moral Elite Barat

- Senin, 09 Februari 2026 | 08:25 WIB
Lavrov Sebut Kasus Epstein Cermin Kemerosotan Moral Elite Barat

PARADAPOS.COM - Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, secara terbuka mengomentari terungkapnya dokumen-dokumen kasus Jeffrey Epstein. Dalam wawancara dengan televisi NTV, Minggu (8/2/2026), diplomat senior itu menyebut skandal tersebut bukan sekadar kejahatan biasa, melainkan sebuah cerminan dari kemerosotan moral yang sistemik di kalangan elite Barat. Pernyataan Lavrov ini disampaikan dalam konteks ketegangan geopolitik yang sedang memanas, di mana isu moralitas dan akuntabilitas kekuasaan menjadi alat pertarungan narasi global.

Kritik Pedas terhadap Moralitas Elite Barat

Lavrov tidak tanggung-tanggung dalam menyampaikan kritiknya. Ia menilai dokumen yang membongkar jaringan perdagangan seks anak di bawah umur pimpinan Epstein itu telah menyingkap "wajah sebenarnya" dari struktur kekuasaan di negara-negara Barat. Menurut pandangannya, lingkaran elite tersebut telah kehilangan nalar kemanusiaan dan tengah berupaya memaksakan pengaruhnya ke seluruh dunia.

Dengan nada yang lugas dan penuh keyakinan, Lavrov kemudian memperjelas tuduhannya. “Topik ini adalah tentang mengungkap wajah sebenarnya dari apa yang disebut Barat kolektif, yang mencoba memerintah seluruh dunia,” tegasnya.

Dari 'Deep State' hingga Tuduhan 'Satanisme'

Analisis Lavrov melangkah lebih dalam dengan menyoroti dugaan adanya jaringan kekuasaan tersembunyi. Alih-alih menggunakan istilah populer 'deep state', ia memilih frasa yang lebih personal dan tajam: 'deep union'. Jaringan inilah, menurutnya, yang secara diam-diam mengendalikan arah kebijakan global jauh dari sorotan publik.

Lebih lanjut, ia menggambarkan praktik-praktik keji yang terungkap dalam kasus Epstein sebagai sesuatu yang berada di luar batas kemanusiaan. Untuk menyebut tingkat kebejatan moral yang ia maksud, Lavrov menggunakan sebuah label yang sarat muatan religius dan kultural. "Ini adalah bentuk satanisme murni," ungkapnya, memberikan penekanan kuat pada kekejian yang dilakukan oleh lingkaran tersebut.

Mengenang Skandal yang Mengguncang Dunia

Komentar Lavrov tentu mengingatkan publik pada rekam jejak kelam Jeffrey Epstein. Taipan keuangan asal Amerika Serikat itu didakwa pada 2019 atas tuduhan perdagangan seks anak di bawah umur dan konspirasi kriminal yang terorganisir. Jaksa penuntut berhasil membuktikan bahwa antara 2002 hingga 2005, Epstein telah mengeksploitasi puluhan gadis di bawah umur di kedua kediaman mewahnya, di New York dan Florida.

Fakta di persidangan mengungkap korban-korban yang masih sangat belia, beberapa bahkan berusia 14 tahun, yang dibayar dengan uang tunai dan secara paksa direkrut untuk memuaskan nafsu jaringan elite yang terlibat. Kasus ini, meski Epstein telah meninggal, terus menghantui panggung politik dan sosial internasional, menyisakan pertanyaan besar tentang sejauh mana kekuasaan dan hukum dapat dijangkau.

Pernyataan Lavrov, dengan demikian, bukan hanya sebuah kecaman moral. Ia juga merupakan bagian dari narasi geopolitik yang lebih luas, di mana setiap skandal di satu blok dunia dapat dengan cepat diangkat menjadi alat untuk memperkuat posisi dan kritik di blok lainnya. Isu ini menyentuh saraf yang sensitif, menyangkut keadilan, transparansi, dan pertarungan definisi tentang moralitas global.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar