Analisis: Perebutan Kursi Cawapres Jadi Arena Politik Utama Menuju Pilpres 2029

- Minggu, 08 Februari 2026 | 14:50 WIB
Analisis: Perebutan Kursi Cawapres Jadi Arena Politik Utama Menuju Pilpres 2029
Analisis: Perebutan Cawapres Pendamping Prabowo Jadi Arena Politik Menuju 2029

PARADAPOS.COM - Peta politik nasional jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mulai menunjukkan bentuknya. Dengan elektabilitas Presiden Prabowo Subianto yang masih sangat kuat, analis politik memprediksi arena persaingan justru akan bergeser ke perebutan kursi calon wakil presiden (cawapres) yang akan mendampinginya. Dinamika ini dipicu oleh keputusan Prabowo dan Partai Gerindra yang sengaja belum menetapkan nama cawapres, termasuk menangguhkan penetapan Gibran Rakabuming Raka, untuk memberi ruang bagi perkembangan politik ke depan.

Strategi Membuka Ruang Dinamika

Penundaan penunjukkan calon wakil presiden secara dini dinilai sebagai langkah politik yang cermat. Langkah ini bukan tanpa alasan, melainkan sebuah pertimbangan strategis untuk mengakomodasi dinamika politik yang masih sangat cair dan akan terus bergerak dalam tiga tahun mendatang.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Iwan Setiawan, memberikan penilaiannya. "Terkait cawapres, kenapa tidak langsung ditetapkan, saya kira Prabowo dan Gerindra pasti mempertimbangkan dinamika politik yang masih terus bergerak," jelasnya dalam sebuah percakapan.

Menurut Iwan, sikap ini justru membuka peluang bagi sejumlah tokoh nasional untuk tampil dan menunjukkan kapasitas politiknya masing-masing. "Bisa saja medan pertarungan politik ke depan justru soal siapa yang akan menjadi cawapres Prabowo 2029," lanjutnya.

Bursa Calon Wakil Presiden yang Ramai

Dengan ruang yang terbuka lebar, sejumlah nama mulai disebut-sebut berpotensi masuk dalam bursa cawapres. Beberapa di antaranya adalah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dari Partai Demokrat, Puan Maharani dari PDI-Perjuangan, Zulkifli Hasan dari PAN, Bahlil Lahadalia, dan tentu saja Gibran Rakabuming Raka. Masing-masing tokoh membawa basis dukungan dan pertimbangan koalisi yang berbeda, yang akan menjadi bahan perundingan politik yang alot.

Meski ramai, proses penyaringan ini diperkirakan belum akan segera mencapai titik final. Iwan Setiawan memprediksi, "Awal 2028 saya kira akan mulai kelihatan dan mengerucut, termasuk siapa yang akan menjadi cawapres dan juga potensi penantang Prabowo kalaupun ada," tuturnya.

Prabowo sebagai Poros Utama

Dinamika di sekitar kursi cawapres ini tidak terlepas dari posisi sentral Prabowo Subianto dalam peta elektoral. Berbagai simulasi dan survei politik konsisten menempatkan elektabilitasnya di atas 70 persen, sebuah angka yang sangat dominan. Tingginya tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahannya menjadi fondasi utama kekuatan politiknya saat ini.

Kondisi ini pada gilirannya membatasi ruang bagi kemunculan penantang presiden yang benar-benar serius. Akibatnya, percakapan politik nasional pun secara natural bergeser. Isu utamanya bukan lagi tentang siapa yang akan menjadi presiden, melainkan tentang konfigurasi pasangan seperti apa yang akan terbentuk di sekitar sang incumbent. Perebutan untuk menjadi pendamping Prabowo, dengan demikian, bukan sekadar soal pencalonan wakil, melainkan arena utama tempat pertarungan pengaruh dan koalisi politik akan terjadi menuju 2029.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar