Iran Tuduh AS dan Israel Gunakan Propaganda Nazi Jelang Perundingan Nuklir

- Kamis, 26 Februari 2026 | 01:00 WIB
Iran Tuduh AS dan Israel Gunakan Propaganda Nazi Jelang Perundingan Nuklir

PARADAPOS.COM - Iran melancarkan kecaman keras terhadap Amerika Serikat menjelang putaran baru perundingan nuklir di Jenewa, Swiss. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menuduh Washington dan sekutunya, Israel, menggunakan taktik propaganda yang disamakan dengan metode Nazi untuk mendiskreditkan Tehran. Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan yang masih tinggi, dengan pimpinan Iran menyodorkan pilihan tegas: diplomasi yang saling menghormati atau konfrontasi.

Iran Tuduh AS dan Israel Gunakan Propaganda Ala Goebbels

Kritik tajam itu disampaikan secara resmi melalui platform media sosial X oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baqaei. Dalam unggahannya, Baqaei secara eksplisit menyandingkan taktik komunikasi AS dan Israel dengan metode Joseph Goebbels, Menteri Propaganda Nazi. Ia mengklaim kedua negara itu sengaja menyebarkan narasi palsu berulang kali untuk membentuk persepsi global yang negatif terhadap Iran.

Baqaei mengutip prinsip propaganda Goebbels yang terkenal itu sebagai rujukan utama tuduhannya.

"Ini sekarang secara sistematis digunakan oleh pemerintahan AS dan para pencari keuntungan perang yang mengelilinginya, khususnya rezim Israel yang melakukan genosida, untuk melayani kampanye disinformasi dan misinformasi jahat mereka terhadap Negara Iran," tulisnya.

Peringatan dari Pimpinan Parlemen Iran

Dari dalam negeri, tekanan juga disuarakan oleh kalangan politik senior. Mohammad Bagher Qalibaf, Ketua Parlemen Iran, menyampaikan pesan yang tidak kalah tegas. Dalam pernyataannya, ia membingkai situasi sebagai sebuah pilihan biner bagi Washington. Qalibaf menegaskan bahwa Iran terbuka untuk berdiplomasi, tetapi dengan syarat yang jelas.

Ia mengungkapkan bahwa negosiasi hanya bisa berjalan jika kedaulatan dan kepentingan nasional Iran dihargai. Namun, ia juga memberikan peringatan keras mengenai konsekuensi jika AS dianggap melangkah terlalu jauh.

Secara terpisah, Qalibaf menambahkan bahwa Iran siap memberikan respons yang keras jika AS memilih jalur lain di luar diplomasi. "Pukulan keras" akan menanti, tegasnya, jika Washington beralih ke ancaman militer atau taktik yang dianggap menipu.

Masa Depan Perundingan di Jenewa

Layar negosiasi sendiri dipersiapkan untuk putaran ketiga di Jenewa, dengan Oman bertindak sebagai mediator. Hingga saat ini, perbincangan yang berlangsung alot belum menunjukkan titik terang yang signifikan. Analis mengamati bahwa jalan diplomasi masih sangat rapuh.

Jika dialog ini akhirnya menemui jalan buntu, spekulasi mengenai langkah AS selanjutnya pun bermunculan. Pertanyaan besar masih menggantung: apakah Washington akan mempertimbangkan aksi militer terbatas sebagai bentuk tekanan, atau justru mengedepankan strategi geopolitik yang lebih luas dan kompleks. Suasana yang sarat dengan tuduhan dan peringatan ini jelas menambah beban bagi proses diplomasi yang sudah rentan.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar