Anak Bupati di Riau Positif Narkoba Usai Razia, BNN Sebut karena Hirup Asap Ganja di Toilet

- Kamis, 28 Mei 2026 | 02:25 WIB
Anak Bupati di Riau Positif Narkoba Usai Razia, BNN Sebut karena Hirup Asap Ganja di Toilet

PARADAPOS.COM - Seorang pria berusia 21 tahun berinisial AF, yang diketahui merupakan anak seorang bupati di Riau, terjaring dalam penggerebekan aparat gabungan di sebuah tempat hiburan malam di Kota Pekanbaru pada Minggu dini hari, 24 Mei 2026. Hasil tes urine yang dilakukan terhadapnya menunjukkan positif ganja dan etomidate. Namun, Kepala Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Pekanbaru, Kombes Wawan, menyatakan bahwa AF tidak terbukti menggunakan narkotika tersebut secara langsung, melainkan diduga terpapar karena menghirup asap ganja di dalam toilet. Pernyataan kontroversial ini langsung memicu perdebatan luas di media sosial dan publik.

Penggerebekan yang berlangsung di pusat hiburan malam itu melibatkan personel gabungan dari Polisi Militer TNI AD, Pom TNI AU, Propam Polda Riau, dan Polresta Pekanbaru. Total 13 orang diamankan dalam operasi tersebut, terdiri dari delapan pria dan lima wanita yang berasal dari Pekanbaru, Kampar, hingga Pelalawan. Kapolresta Pekanbaru, Muharman Arta, dalam konferensi pers pada Selasa (26/5/2026) mengonfirmasi bahwa seluruh pelaku telah diserahkan ke Satresnarkoba Polresta Pekanbaru untuk pemeriksaan lebih lanjut. “Terhadap 13 orang penyalahgunaan narkotika ini, diserahkan ke Polresta Pekanbaru,” ujarnya.

Dari hasil tes urine, polisi mendapati tiga orang positif menggunakan ganja, sementara sisanya positif etomidate. Barang bukti yang disita dari lokasi meliputi ganja kering dan cairan etomidate. Namun, sorotan utama justru tertuju pada AF, yang statusnya sebagai anak pejabat daerah membuat kasus ini menjadi perhatian publik.

Klarifikasi BNNK: Positif karena Menghirup Asap

Kepala BNNK Pekanbaru, Kombes Wawan, kemudian memberikan penjelasan yang menjadi pusat kontroversi. Menurut hasil asesmen yang dilakukan pihaknya, AF memang dinyatakan positif ganja dan etomidate, tetapi tidak ada bukti bahwa ia secara aktif mengonsumsi narkotika tersebut. Wawan menjelaskan bahwa saat penggerebekan berlangsung, dua tersangka lain sedang menghisap ganja di dalam toilet. AF kemudian masuk ke ruangan sempit itu dan diduga menghirup asap ganja yang memenuhi udara.

“Kok bisa tidak menggunakan ganja tapi tiba-tiba positif. Ternyata dua tersangka lain sedang menghisap ganja di dalam toilet, lalu AF masuk ke toilet tersebut,” ungkap Wawan. Ia menambahkan bahwa pihaknya telah berkonsultasi dengan tenaga medis untuk memvalidasi kemungkinan tersebut. “Dan saya tanya ke dokter, apakah bisa positif ganja jika situasinya seperti itu, menghirup asap dari udara? Ternyata bisa. Dan yang bersangkutan mengaku tidak menggunakan ganja,” tuturnya.

Meskipun hasil tes urine menunjukkan positif, AF tetap bersikukuh tidak pernah menggunakan narkotika secara langsung. Berdasarkan asesmen terpadu, ia tidak diproses secara pidana dan hanya diwajibkan menjalani rehabilitasi rawat jalan sebanyak empat kali. Sementara itu, seorang pelaku lain berinisial FTR yang diduga memiliki barang bukti ganja dinaikkan statusnya ke tahap penyidikan. Adapun MAY, yang masuk kategori pengguna berat, direkomendasikan menjalani rehabilitasi rawat inap selama tiga bulan. Sebelas orang lainnya dinilai tidak terlibat dalam jaringan peredaran narkotika dan hanya diwajibkan menjalani rehabilitasi rawat jalan di BNNK Pekanbaru.

Sosok Kombes Wawan di Balik Kontroversi

Kombes Wawan, yang menjabat sebagai Kepala BNNK Pekanbaru sejak dilantik pada 11 November 2024, bukanlah sosok asing di dunia pemberantasan narkoba. Ia dikenal aktif memimpin langsung berbagai operasi pengungkapan dan pemberantasan jaringan peredaran narkoba di wilayah hukum Kota Pekanbaru. Tak hanya itu, Wawan juga gencar melakukan sosialisasi pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan, dan peredaran gelap narkotika (P4GN) ke berbagai lapisan masyarakat, mulai dari lingkungan akademis hingga instansi pemerintahan.

Tidak lama setelah dilantik, ia langsung tancap gas dengan menggelar kegiatan sosialisasi di Kampus Universitas Lancang Kuning (UNILAK). Kegiatan itu bertujuan memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai bahaya dan dampak penyalahgunaan narkoba, sekaligus meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pencegahan peredaran narkotika, khususnya di kalangan generasi muda.

Meski demikian, informasi pribadi mengenai Kombes Wawan tidak banyak beredar di publik. Namanya justru mencuat dan menjadi sorotan setelah pernyataannya mengenai kasus AF—yang menyebut anak pejabat itu positif narkoba namun tidak aktif menggunakannya—ramai diperbincangkan. Pernyataan itu sontak menjadi bahan diskusi hangat di media sosial, dengan banyak pihak mempertanyakan logika medis di balik klaim bahwa seseorang bisa terpapar narkotika hanya karena berada di ruang tertutup yang dipenuhi asap ganja.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags