Istri Ayatollah Khamenei Meninggal Dunia, Dampak Lanjutan Serangan AS-Israel

- Senin, 02 Maret 2026 | 23:00 WIB
Istri Ayatollah Khamenei Meninggal Dunia, Dampak Lanjutan Serangan AS-Israel
Istri Ayatollah Khamenei Meninggal Dunia, Krisis Timur Tengah Memanas

PARADAPOS.COM - Mansoureh Khojasteh, istri mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, meninggal dunia pada Senin (2/3/2026) setelah tiga hari dalam kondisi koma. Kematiannya merupakan dampak lanjutan dari serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel yang terjadi pada Sabtu (28/2/2026) pagi, sebuah operasi yang juga menewaskan suaminya dan puluhan pejabat tinggi militer serta politik Iran. Peristiwa ini semakin memperdalam krisis dan ketegangan di kawasan Timur Tengah, dengan ancaman eskalasi yang lebih luas.

Meninggal Setelah Tiga Hari Berjuang

Media pemerintah Iran melaporkan, serangan presisi yang menyasar kantor sekaligus kediaman resmi Pemimpin Tertinggi di Teheran itu menyebabkan Khojasteh mengalami luka serius. Perempuan berusia 78 tahun itu kemudian dirawat intensif sebelum akhirnya dinyatakan wafat. Ia telah mendampingi Khamenei sejak pernikahan mereka pada 1964, menjalani hidup dengan profil rendah selama lebih dari enam dekade. Kepergiannya, di tengah situasi yang sudah mencekam, menandai hilangnya salah satu pilar personal di balik layar kekuasaan Iran.

Namun, dampak strategis serangan itu jauh lebih dalam. Operasi yang dijuluki "Operation Epic Fury" tersebut tidak hanya menargetkan Khamenei, tetapi juga diyakini telah melenyapkan hampir seluruh struktur komando puncak negara dalam satu pukulan.

Pertemuan Rahasia yang Berakhir Tragis

Presiden AS Donald Trump memberikan penjelasan mengejutkan terkait waktu dan sasaran serangan. Dalam sebuah wawancara, ia mengklaim intelijen AS berhasil mengungkap pertemuan rahasia yang dihadiri 49 pejabat paling senior Iran, termasuk Khamenei, pada Sabtu pagi itu.

"Mereka pikir mereka aman karena hari terang benderang. Tapi kami mendapatkan mereka semua. Posisi kedua, ketiga, hingga ke-49, semuanya tewas," ujarnya.

Menurut Trump, para pejabat Iran tersebut berkumpul dalam sebuah sesi sarapan, berasumsi bahwa serangan tidak akan terjadi di siang bolong. Asumsi itu ternyata keliru.

Daftar Korban di Lingkaran Kekuasaan

Operasi tersebut secara efektif memenggal hierarki kepemimpinan Iran. Beberapa nama yang dikonfirmasi tewas antara lain Letnan Jenderal Abdolrahim Mousavi (Kepala Staf Angkatan Bersenjata), Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh, Mayor Jenderal Mohammad Pakpour (Komandan elit IRGC), serta Ali Shamkhani yang merupakan penasihat pertahanan senior. Korban juga menjalar ke keluarga inti Khamenei, termasuk putri, menantu, dan cucu-cucunya.

Eskalasi dan Korban di Pihak AS

Kemenangan strategis AS itu dibayar mahal. Komando Pusat AS (CENTCOM) memperbarui data korban dengan mengonfirmasi empat tentara AS tewas dalam serangan drone balasan di Kuwait, meningkat dari laporan sebelumnya yang menyebut tiga orang. Keempatnya adalah bagian dari 18 personel yang mengalami luka parah.

Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) disebut telah melancarkan serangan gelombang keenam yang menghantam berbagai fasilitas di kawasan Teluk. Laporan menyebutkan kebakaran hebat di Pelabuhan Jebel Ali Dubai, ledakan-ledakan di Doha dan Manama yang menyebabkan belasan orang terluka, serta Bandara Erbil di Irak yang dilaporkan terbakar.

Sumpah Balas Dendam dari Iran

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani, menyampaikan pernyataan keras yang menjanjikan pembalasan.

"Amerika telah menikam rakaat Iran di jantungnya, dan kami akan menikam balik jantung mereka. Mereka tidak bisa menyerang lalu lari begitu saja," tegas Larijani.

Ia menegaskan bahwa Teheran tidak akan bernegosiasi dengan Washington dan akan terus menargetkan pangkalan-pangkalan AS di wilayah tersebut.

Dampak Kemanusiaan dan Ancaman Global

Di balik pertukaran serangan militer, tragedi kemanusiaan mulai terungkap. Sebuah laporan yang belum diverifikasi secara independen menyebutkan sebuah sekolah dasar putri di Minab, Iran, hancur akibat rudal, menewaskan lebih dari 100 siswi. Secara total, diklaim 133 warga sipil Iran tewas dalam 24 jam pertama setelah serangan awal, sebuah angka yang jika benar menjadikannya salah satu insiden paling mematikan bagi non-kombatan dalam konflik ini.

Ketegangan juga merembet ke aspek ekonomi global. Ancaman terhadap keamanan Selat Hormuz—jalur pelayaran vital bagi ekspor minyak dunia—telah memicu volatilitas di pasar energi dan saham. Di dalam negeri AS, FBI disebut telah meningkatkan kewaspadaan kontra-terorisme.

Masa Depan yang Penuh Gejolak

Dengan kekosongan kepemimpinan yang tiba-tiba, analis memperingatkan periode transisi di Iran yang berpotensi memicu konflik internal dan perebutan pengaruh. Sementara beberapa pihak, seperti Reza Pahlavi, menyebut peristiwa ini sebagai "akhir Republik Islam," kenyataannya jalan ke depan bagi kawasan Timur Tengah diprediksi akan penuh dengan ketidakpastian dan gejolak yang lebih dalam.

Editor: Bagus Kurnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar