Eskalasi Timur Tengah Picu Gelombang Panic Buying BBM di Berbagai Negara

- Minggu, 08 Maret 2026 | 15:50 WIB
Eskalasi Timur Tengah Picu Gelombang Panic Buying BBM di Berbagai Negara

PARADAPOS.COM - Gelombang aksi panic buying atau pembelian panik bahan bakar minyak (BBM) mulai melanda sejumlah negara, dipicu oleh kekhawatiran terganggunya pasokan energi global. Situasi ini muncul sebagai respons atas eskalasi ketegangan di Timur Tengah antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang mengancam jalur pelayaran vital Selat Hormuz. Kekhawatiran akan penutupan selat tersebut, yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, mendorong warga di berbagai belahan dunia untuk berburu BBM, menciptakan antrean panjang di stasiun pengisian dan memicu kenaikan harga di tingkat konsumen.

Gejala Kekhawatiran Global Terlihat di Korea Selatan

Di Korea Selatan, gejala panic buying tampak nyata. Sejumlah SPBU di Seoul mengalami antrean kendaraan yang mengular pada Rabu lalu, seiring dengan melonjaknya harga minyak mentah di pasar internasional. Kekhawatiran publik tidak hanya soal kenaikan harga, tetapi juga ketergantungan ekstrem negara itu pada impor energi. Lebih dari 90% kebutuhan energi Korea Selatan bergantung pada impor, dengan porsi signifikan minyak mentah dan gas alam cairnya melewati Selat Hormuz.

Tekanan ini diperberat oleh laporan tentang 26 kapal tanker asal Korea yang tertahan di sekitar selat tersebut. Harga bensin rata-rata di Negeri Ginseng telah menembus 1.800 won per liter, memperkuat beban biaya hidup masyarakat.

"Saya isi sekarang karena takut besok lebih mahal," tutur seorang pengemudi di Seoul kepada media lokal, menggambarkan suasana hati yang meluas.

Meski pemerintah diketahui memiliki cadangan minyak strategis, analis memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan di jalur pelayaran kunci itu berpotensi memicu kondisi darurat ekonomi.

Australia Berusaha Tenangkan Pasar

Di seberang samudera, Australia juga merasakan dampak serupa. Ribuan pengendara di Perth, Australia Barat, memadati SPBU pada Selasa malam, menciptakan antrean panjang. Pemerintah negara bagian segera turun tangan untuk meredam kepanikan.

Perdana Menteri Australia Barat, Roger Cook, secara khusus meminta masyarakat untuk tidak melakukan pembelian panik dan menegaskan ketersediaan pasokan. "Jangan menaikkan harga hanya karena orang khawatir tentang masa depan mereka," tegasnya. "Saat ini Anda memiliki pasokan bahan bakar yang berkelanjutan," lanjut Cook.

Di Queensland, otoritas setempat bahkan mengancam akan melaporkan sejumlah pengecer besar ke komisi persaingan usaha karena diduga menaikkan harga secara tidak wajar. Namun, asosiasi industri mencoba memberikan penjelasan yang lebih kontekstual.

"Mayoritas minyak Australia berasal dari Singapura, bukan Timur Tengah, jadi meskipun harga di pasar mungkin naik, tidak akan ada masalah pasokan," ungkap Rowan Lee, perwakilan Asosiasi Pemasar Minyak dan Gas Rumah Tangga Australasia. Ia menambahkan bahwa dampak gangguan pasokan baru akan terlihat setelah beberapa minggu karena waktu tunggu pengiriman.

Inggris Imbau Warga Tetap Tenang

Sementara itu, di Inggris, laporan mengenai antrean panjang di SPBU di kota-kota seperti London, Manchester, dan Liverpool mulai bermunculan. Otoritas energi setempat mengakui adanya kenaikan harga grosir, tetapi mengimbau masyarakat agar tidak terbawa kepanikan.

"Harga di pompa bensin sedang naik, biaya grosir telah meningkat bahkan sebelum serangan akhir pekan lalu di Iran," kata seorang juru bicara otoritas. "Namun, harga rata-rata di pompa bensin hari ini masih di bawah harga awal tahun lalu," jelasnya, mencoba memberikan perspektif.

Pihak berwenang menegaskan bahwa meski ada peningkatan permintaan, tidak ada alasan untuk melakukan penimbunan. "Tidak ada gunanya membuang waktu, bahan bakar, dan uang untuk mengantre ketika pengemudi tidak perlu melakukannya," tandasnya.

Bangladesh Terpaksa Berlakukan Pembatasan

Dampak ketegangan geopolitik ini juga merambat ke Asia Selatan. Di Bangladesh, kota-kota besar seperti Dhaka dan Chattogram mengalami antrean kendaraan yang memadati SPBU. Sebagai negara yang sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah, kekhawatiran akan penutupan Selat Hormuz dirasakan sangat akut.

Menghadapi lonjakan permintaan yang tajam—penjualan solar harian dilaporkan melonjak dari rata-rata 13.000 ton menjadi lebih dari 20.000 ton—pemerintah melalui Bangladesh Petroleum Corporation (BPC) mengambil langkah tegas dengan memberlakukan pembatasan penjualan BBM harian. Saat ini, cadangan bensin dan solar negara itu diperkirakan hanya bertahan untuk sekitar dua minggu.

Myanmar Ambil Langkah Ekstrem Hemat BBM

Situasi paling menantang mungkin terjadi di Myanmar, di mana ketergantungan impor BBM mencapai 90%. Menghadapi tekanan ganda dari ketidakpastian global dan kondisi dalam negeri, junta militer yang berkuasa mengambil kebijakan pembatasan lalu lintas yang ketat.

Separuh dari kendaraan pribadi akan dilarang beroperasi setiap hari berdasarkan nomor pelat ganjil-genap, sebuah langkah yang bertujuan menghemat cadangan bahan bakar yang diperkirakan hanya cukup untuk 40 hari. Juru bicara junta, Zaw Min Tun, menyatakan kebijakan ini diperlukan untuk menggunakan cadangan secara sistematis.

Meski aturan sudah diberlakukan, antrean tetap terlihat di SPBU-SPBU di Yangon. Di beberapa daerah perbatasan, gejolak harga bahkan lebih ekstrem, menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas pasokan energi di tengah gejolak geopolitik yang merambat ke seluruh dunia.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar