PARADAPOS.COM - Garda Revolusi Iran (IRGC) merilis rekaman video yang menunjukkan pasukannya menyita dua kapal kargo di Selat Hormuz pada Rabu lalu. Dalam operasi yang terekam jelas, kapal cepat IRGC merapat ke sisi sebuah tanker berbendera Liberia, lalu personel bersenjata yang mengenakan penutup kepala menaiki kapal menggunakan tangga tali. Mereka kemudian memaksa masuk dan mengambil alih kapal tersebut. Di hari yang sama, Iran juga menyita kapal berbendera Panama. Tindakan ini dipandang sebagai respons terhadap kebijakan militer Amerika Serikat di bawah Trump yang mencegat kapal-kapal yang terkait dengan Teheran di sekitar pelabuhan Iran.
IRGC Sebut Kapal Langgar Aturan Maritim
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa IRGC menegaskan kedua kapal tersebut telah melanggar peraturan maritim. Mereka disebut memasuki jalur perairan strategis tanpa koordinasi terlebih dahulu.
"Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan bahwa kapal-kapal tersebut telah melanggar peraturan maritim dan memasuki jalur perairan strategis tanpa koordinasi," demikian menurut media pemerintah Iran.
Penangkapan ini terjadi tak lama setelah laporan muncul mengenai sebuah kapal perang Iran yang menembaki kapal kontainer di dekat perairan Oman. Badan pemantauan maritim Inggris (UKMTO) menerima laporan dari kapten kapal yang menyatakan bahwa kapalnya didekati oleh kapal IRGC sebelum tembakan dilepaskan.
“[Insiden itu] telah menyebabkan kerusakan parah pada anjungan. Tidak ada kebakaran atau dampak lingkungan yang dilaporkan,” tambah UKMTO.
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Seluruh awak kapal dilaporkan dalam keadaan selamat.
Selat Hormuz: Jalur Vital yang Kembali Memanas
Selat Hormuz bukanlah perairan biasa. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintasi jalur ini, menjadikannya salah satu titik paling strategis di peta geopolitik global. Tohid Asadi, melaporkan dari Teheran, mengatakan bahwa langkah Iran ini sejalan dengan pernyataan IRGC sebelumnya. Mereka telah memperingatkan bahwa setiap pelayaran—baik kapal barang, perahu, maupun tanker minyak—yang melintasi Selat Hormuz harus mendapatkan izin dan koordinasi dari pihak mereka.
Gencatan Senjata yang Bersyarat
Di tengah ketegangan ini, Trump sebelumnya mengumumkan penundaan serangan militer yang direncanakan terhadap Iran. Keputusan itu disebutnya sebagai respons atas permintaan dari Kepala Angkatan Darat Pakistan, Jenderal Asim Munir, dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif.
Dalam tulisannya di Truth Social, Trump mengungkapkan bahwa keputusan itu diambil karena Pemerintah Iran dinilai 'sangat terpecah' dan membutuhkan waktu untuk menyampaikan posisi yang bersatu.
"Kami telah diminta untuk menunda serangan kami terhadap negara Iran sampai para pemimpin dan perwakilan mereka dapat mengajukan proposal yang bersatu," tulisnya.
Namun, ia menambahkan bahwa blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran akan tetap berlaku. Militer Amerika, katanya, telah diperintahkan untuk tetap siaga penuh.
Kecaman dari Panama dan Italia
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Panama angkat bicara. Mereka mengutuk penyitaan kapal MSC Francesca, sebuah kapal milik Italia yang berlayar di bawah bendera Panama.
“Kapal tersebut sedang melintasi Selat Hormuz ketika disita dan dibawa secara paksa ke perairan teritorial Iran,” kata kementerian tersebut dalam sebuah unggahan di X.
Pernyataan itu menegaskan bahwa tindakan Iran menimbulkan ancaman serius terhadap keamanan maritim. Lebih dari itu, langkah tersebut dinilai sebagai eskalasi yang tidak perlu di saat komunitas internasional justru mengadvokasi agar Selat Hormuz tetap terbuka untuk navigasi global.
Editor: Clara Salsabila
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Iran Pamerkan Rudal Balistik di Jalanan Teheran, Kirim Pesan Kekuatan ke AS dan Israel
Singapura Peringatkan Konflik AS-China di Pasifik Bisa Lebih Parah dari Krisis Global Saat Ini
Hizbullah Serang Posisi Israel dengan Drone, Klaim Balas Pelanggaran Gencatan Senjata
Indonesia Kecam Pasukan Israel Pasang Spanduk Propaganda di Reruntuhan RS Indonesia Gaza