Reza Pahlavi Dilempar Saus Tomat saat Konferensi Pers di Berlin

- Jumat, 24 April 2026 | 01:50 WIB
Reza Pahlavi Dilempar Saus Tomat saat Konferensi Pers di Berlin

PARADAPOS.COM - Sebuah insiden mengejutkan mewarnai kunjungan Reza Pahlavi, tokoh oposisi Iran sekaligus putra mendiang Shah Iran, di Berlin, Jerman, pada Rabu, 23 April 2026. Usai menghadiri konferensi pers di Bundespressekonferenz (Konferensi Pers Federal Jerman), Pahlavi menjadi sasaran lemparan saus tomat oleh seorang pria tak dikenal. Kejadian berlangsung di tengah kerumunan yang dipadati media massa dan para pendukungnya, tepat saat ia meninggalkan lokasi acara. Petugas keamanan yang sigap bergerak berhasil mengamankan pelaku, sementara Pahlavi memilih untuk tetap tenang dan melanjutkan langkahnya tanpa menunjukkan reaksi berlebihan.

Kronologi Kejadian di Bundespressekonferenz

Suasana di luar gedung konferensi pers sempat riuh rendah. Puluhan pendukung membawa bendera Iran pra-revolusi dan bendera Jerman, menciptakan pemandangan yang kontras di ibu kota Jerman itu. Di tengah kerumunan itulah seorang pria tiba-tiba melontarkan saus tomat ke arah punggung Reza Pahlavi. Dalam video yang beredar luas di media sosial, terlihat jelas bagaimana jas sang tokoh oposisi terkena cipratan saus merah. Namun, Pahlavi tidak terpancing emosi. Ia terus berjalan dengan langkah mantap, dikawal ketat oleh petugas keamanan di sekelilingnya.

Otoritas setempat kemudian memastikan bahwa zat yang digunakan dalam insiden tersebut adalah saus tomat, bukan cat atau bahan kimia berbahaya seperti yang sempat menjadi spekulasi di beberapa kalangan. Meskipun terlihat sepele, aparat tetap mengkategorikan tindakan ini sebagai serangan karena dilakukan secara sengaja di ruang publik yang padat. Kejadian ini kembali menyoroti betapa dinamika politik Iran di pengasingan kerap memicu ketegangan, bahkan hingga ke ruang-ruang publik di negara-negara Barat yang menjadi tempat tinggal para tokoh oposisi.

Reaksi Warganet: Antara Kritik dan Dukungan

Insiden ini sontak memicu beragam reaksi di jagat maya. Mulai dari kritik pedas hingga dukungan penuh, komentar-komentar warganet mencerminkan betapa polarisasi isu ini masih sangat kuat. Berikut beberapa di antaranya:

@pengamat_timteng: "Saus tomat? Serius? Kalau mau protes, ya protes dengan cara yang bermartabat. Melempar makanan itu nggak keren."

@pendukung_reza: "Reza Pahlavi menunjukkan kelasnya. Kena lempar saus, jalan tetap tenang, nggak terpancing emosi. Ini pemimpin sejati."

@netizen_jerman: "Untung cuma saus tomat, kalau benda keras bisa bahaya. Keamanan di acara publik harus lebih ketat lagi."

@sejarah_iran: "Reza Pahlavi emang tokoh kontroversial buat sebagian orang Iran. Tapi aksi kekerasan (sekecil apapun) di ruang publik nggak bisa dibenarkan."

@humor_politik: "Padahal lagi musim tomat mahal di Eropa. Sayang banget sausnya dilempar sia-sia"

@waspada_global: "Ini tanda bahwa ketegangan politik Iran di pengasingan makin panas. Was-was kalau ada aksi lebih serius berikutnya."

Makna di Balik Lemparan Saus Tomat

Meskipun bagi sebagian orang insiden ini mungkin terlihat kecil atau bahkan menggelikan, peristiwa ini menyimpan simbolisme yang lebih dalam. Reza Pahlavi, sebagai putra dari Shah Iran Mohammad Reza Pahlavi yang digulingkan dalam Revolusi Iran 1979, hingga kini masih menjadi figur yang membelah opini publik. Di satu sisi, ia didukung oleh para pendukung monarki dan kelompok oposisi Republik Islam Iran. Di sisi lain, ia juga menghadapi tentangan keras dari kelompok pro-rezim maupun mereka yang menganggap dinasti Pahlavi penuh dengan rekam jejak kelam di masa lalu.

Yang patut diapresiasi adalah sikap tenang yang ditunjukkan Reza Pahlavi. Ia tidak membiarkan provokasi kecil semacam itu mengubah martabatnya sebagai seorang tokoh nasional. Namun, di sisi lain, insiden ini juga menjadi kritik tajam terhadap lemahnya sistem pengamanan di acara publik yang dipadati media. Untung saja yang dilempar hanya saus tomat, bukan benda keras atau berbahaya lainnya. Otoritas Jerman diharapkan dapat mengusut tuntas motif pelaku, apakah sekadar aksi iseng, protes politik, atau ada aktor tertentu di baliknya. Apapun motifnya, kekerasan dalam bentuk apapun bukanlah jalan yang tepat untuk menyelesaikan perbedaan politik.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar