Israel Cabut Dua Tokoh Iran dari Daftar Target Didorong Upaya Mediasi Pakistan

- Kamis, 26 Maret 2026 | 14:25 WIB
Israel Cabut Dua Tokoh Iran dari Daftar Target Didorong Upaya Mediasi Pakistan
Israel Hapus Dua Tokoh Iran dari Daftar Target, Pakistan Dikaitkan dengan Upaya Mediasi

PARADAPOS.COM - Israel dikabarkan telah menarik dua nama penting dari daftar targetnya: Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Keputusan ini muncul setelah Pakistan dilaporkan mendesak Amerika Serikat untuk mencegah penghilangan kedua tokoh tersebut, yang dianggap sebagai figur kunci yang masih mungkin diajak bernegosiasi. Laporan ini, yang pertama kali diungkap oleh Reuters, menyoroti dinamika diplomatik yang kompleks di balik layar konflik yang sedang berlangsung.

Profil Tokoh yang Diselamatkan

Abbas Araghchi bukanlah diplomat biasa. Ia adalah tangan kanan yang berpengalaman, pernah memimpin delegasi Iran dalam perundingan nuklir yang sensitif dengan kekuatan dunia. Di sisi lain, Mohammad Bagher Ghalibaf dipandang oleh beberapa kalangan di Washington sebagai figur politik dengan pragmatisme tertentu, seorang yang mungkin bisa diajak bekerja sama. Pencabutan nama mereka dari daftar target bukanlah keputusan kecil, melainkan sebuah sinyal dalam dunia intelijen yang seringkali tak bersuara.

Desakan Pakistan dan Respons AS-Israel

Menurut sumber Pakistan yang dekat dengan masalah ini, tekanan diplomatik yang dilakukan Islamabad menjadi kunci. Sumber tersebut menjelaskan alasan di balik permintaan mereka kepada Washington.

“Israel memiliki koordinat mereka dan ingin melenyapkan mereka,” tutur sumber tersebut. “Kami memberi tahu AS bahwa jika mereka juga dieliminasi maka tidak ada lagi yang dapat diajak bicara, oleh karena itu AS meminta Israel untuk mundur.”

Informasi ini sejalan dengan laporan terpisah dari Wall Street Journal, yang mengonfirmasi bahwa kedua nama itu dihapus dari daftar target untuk jangka waktu empat hingga lima hari ke depan. Langkah ini dikaitkan dengan upaya pemerintahan Donald Trump untuk membuka kembali kanal dialog dengan Tehran, meski laporan WSJ tidak menyebutkan peran Pakistan secara spesifik.

Konteks Operasi Penargetan yang Masih Berlanjut

Keputusan ini terjadi di tengah kampanye Israel yang gencar menargetkan elite Iran. Sejumlah nama besar, termasuk pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan kepala keamanan Ali Larijani, telah dilaporkan tewas sejak konflik pecah. Komitmen Israel untuk terus memburu para pemimpin Iran tetap teguh, sebagaimana diakui oleh Presiden Trump sendiri dalam sebuah briefing.

“Kami membunuh semua pemimpin mereka, dan kemudian mereka bertemu untuk memilih pemimpin baru, dan kami membunuh mereka semua,” ujarnya kepada wartawan pada hari Selasa. “Dan sekarang kita memiliki kelompok baru, dan kita dapat dengan mudah melakukan itu, tetapi mari kita lihat bagaimana hasilnya.”

Pernyataan Trump ini menggambarkan siklus kekerasan yang brutal, sekaligus membuat keputusan untuk menyelamatkan Araghchi dan Ghalibaf terasa lebih strategis dan penuh pertimbangan.

Peran Mediasi Pakistan dan Dukungan Regional

Di panggung diplomasi, Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar secara terbuka mengakui peran negaranya sebagai penyampai pesan antara Washington dan Tehran. Upaya mediasi ini, menurutnya, juga mendapat sokongan dari beberapa negara lain di kawasan.

Ia menyebutkan Turki dan Mesir sebagai bagian dari negara-negara yang mendukung inisiatif damai, selain pihak-pihak lain yang tidak disebutkan namanya. Dalam sebuah pernyataan resmi, Dar menegaskan, "Pakistan tetap sepenuhnya berkomitmen untuk mempromosikan perdamaian dan terus melakukan segala upaya untuk memastikan stabilitas di kawasan dan sekitarnya."

Langkah-langkah diplomatik yang berlapis ini menunjukkan bahwa di balik retorika panas dan serangan militer, masih ada ruang untuk manuver politik yang bertujuan mencegah eskalasi lebih jauh dan menjaga agar pintu negosiasi tetap terbuka, meski hanya selebar celah.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar