Trump Kecam Sekutu NATO atas Kurangnya Dukungan dalam Ketegangan dengan Iran

- Minggu, 29 Maret 2026 | 01:50 WIB
Trump Kecam Sekutu NATO atas Kurangnya Dukungan dalam Ketegangan dengan Iran

PARADAPOS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyuarakan kekecewaan yang tajam terhadap sekutu-sekutu NATO, yang dinilainya gagal memberikan kontribusi berarti dalam konflik yang sedang berlangsung dengan Iran. Pernyataan kerasnya ini muncul di tengah eskalasi ketegangan di Timur Tengah, di mana Washington mendesak berbagai pihak untuk membantu mengamankan Selat Hormuz—jalur pelayaran minyak paling vital di dunia—setelah gangguan yang memicu lonjakan harga energi global.

Kritik Trump dan Respons Dingin Sekutu

Dalam unggahan di platform Truth Social pada Kamis, Trump secara terbuka mengkritik aliansi militer transatlantik tersebut. Ia menilai negara-negara anggota NATO "sama sekali tidak melakukan apa pun" untuk membantu AS menghadapi Iran, yang digambarkannya kini "hancur secara militer".

"AS tidak membutuhkan apa pun dari NATO, namun kami tidak akan pernah melupakan momen yang sangat penting ini," tulisnya.

Namun, seruan Trump untuk mengamankan Selat Hormuz justru mendapat respons dingin dari sejumlah negara Eropa. Mereka menilai konflik dengan Iran merupakan perang yang dipicu oleh kebijakan Washington sendiri, yang dilakukan tanpa konsultasi memadai dengan mitra-mitranya. Trump membalas penolakan ini dengan menyebut respons NATO sebagai "kesalahan yang sangat bodoh". Meski mengaku opsi untuk menarik diri dari aliansi itu "layak dipertimbangkan", ia menyatakan belum ada rencana konkret untuk melakukannya saat ini. Sikap kritis terhadap NATO sendiri bukan hal baru dari Trump, yang sejak masa jabatan pertamanya kerap mempertanyakan nilai aliansi tersebut bagi Amerika Serikat.

Pulau Kharg: Medan Jebakan yang Mematikan

Sementara ketegangan diplomatik memanas, ancaman militer di lapangan juga semakin nyata. Laporan intelijen AS mengungkap bahwa Iran telah mengubah Pulau Kharg—pusat ekspor energi utama mereka di Teluk Persia—menjadi benteng pertahanan yang dipenuhi "medan jebakan". Pulau strategis ini telah diperkuat dengan penambahan pasukan, sistem pertahanan udara, serta berbagai jebakan tempur untuk menghadapi kemungkinan invasi darat.

Kompleksitas pertahanan ini membuat beberapa sekutu AS di kawasan secara diam-diam memperingatkan Washington. Mereka menyebut operasi merebut Pulau Kharg berpotensi menimbulkan korban jiwa yang besar di pihak Amerika. Spekulasi di Washington memang menguat bahwa opsi invasi darat sedang dipertimbangkan serius, namun analis militer meragukan kemudahan misi semacam itu.

Brigadir Jenderal purnawirawan Steve Anderson, seorang veteran dengan pengalaman logistik militer yang luas, menggarisbawahi tantangan luar biasa yang akan dihadapi. Selain medan yang sudah dipersiapkan untuk perang asimetris dengan ranjau dan jebakan, pulau itu juga dihuni puluhan ribu warga sipil dan berada dalam jangkauan tembak artileri dari daratan utama Iran.

"Anda mungkin bisa merebut pulau itu, tetapi mempertahankannya akan menjadi tantangan terbesar," tegas Anderson.

Front Baru: Houthi Masuk Kancah Konflik

Eskalasi semakin meluas dengan masuknya aktor non-negara ke dalam kancah. Kelompok Houthi di Yaman secara resmi menyatakan perang dengan meluncurkan serangan rudal balistik pertamanya ke Israel. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengumumkan aksi ini melalui siaran televisi, menegaskan bahwa operasi akan berlanjut hingga agresi terhadap apa yang disebutnya "poros perlawanan" dihentikan.

Militer Israel mengonfirmasi satu rudal berhasil dicegat, meski sirene peringatan sempat berbunyi di wilayah selatan. Serangan ini membuka front baru yang memperumit peta konflik, sekaligus meningkatkan ancaman terhadap jalur perdagangan global. Kelompok Houthi memiliki rekam jejak mengganggu pelayaran di Laut Merah dan kini mengancam akan menutup Selat Bab al-Mandab—jalur air vital yang dilalui sekitar 30% impor Israel.

Ancaman ganda terhadap dua selat strategis dunia, Hormuz dan Bab al-Mandab, mengkhawatirkan para pengamat ekonomi global. Mohamad Elmasry, seorang profesor yang mempelajari dinamika media dan politik di kawasan, memberikan peringatan tentang konsekuensinya.

"Kita bisa menghadapi dua titik hambatan utama perdagangan dunia secara bersamaan," ungkap Elmasry.

Dengan bertambahnya pihak yang terlibat, mulai dari negara hingga kelompok bersenjata, situasi di Timur Tengah memasuki fase yang semakin berbahaya dan tidak terduga. Risiko konflik regional yang lebih luas dan berdampak global kini tampak lebih nyata daripada sebelumnya.

Editor: Bagus Kurnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar