Iran Ancam Balas Serangan AS hingga ke Wilayah Domestik Amerika

- Senin, 06 April 2026 | 08:00 WIB
Iran Ancam Balas Serangan AS hingga ke Wilayah Domestik Amerika

PARADAPOS.COM – Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran telah memasuki fase yang semakin berbahaya, dengan ancaman perang terbuka yang kini diklaim dapat menjalar hingga ke wilayah Amerika Serikat sendiri. Peringatan ini disampaikan oleh sumber internal militer Iran menyusul klaim keberhasilan mereka menggagalkan operasi penyelamatan pilot AS di selatan Isfahan pada Minggu (5/4/2026), yang disebut menghancurkan sejumlah alutsista canggih Amerika. Eskalasi ini dipicu oleh serangan udara AS-Israel skala besar terhadap Iran sejak akhir Februari, yang telah memicu serangkaian operasi balasan dan menelan korban sipil di kedua belah pihak.

Ancaman Balasan Hingga ke Wilayah AS

Sebuah sumber dalam tubuh militer Iran, yang dikutip oleh kantor berita Tasnim News, mengeluarkan peringatan keras bahwa kebijakan Presiden AS Donald Trump yang menargetkan infrastruktur vital Iran berisiko memicu pembalasan langsung di jantung wilayah Amerika Serikat. Sumber tersebut tidak secara gamblang menyebutkan metode serangan, namun memberikan isyarat kuat mengenai potensi gangguan stabilitas domestik AS.

“Trump akan melihat bahwa mereka akan mengalami kekacauan hebat dari dalam wilayah Amerika sendiri jika terus menghancurkan infrastruktur kami,” tegas sumber militer itu.

Pernyataan ini menandai peningkatan signifikan dalam retorika Teheran, mengisyaratkan bahwa konflik yang selama ini berlangsung di kawasan Timur Tengah berpotensi meluas secara geografis. Ancaman tersebut muncul sebagai respons atas klaim Iran yang menyatakan berhasil menembak jatuh helikopter Black Hawk dan pesawat angkut militer AS dalam sebuah operasi di Isfahan.

Iran Janjikan "Kejutan Besar" dan Kritik Strategi AS

Sebelumnya, seorang pejabat keamanan senior Iran telah memperingatkan bahwa negara itu telah menyiapkan "kejutan besar" bagi AS dan Israel. Pejabat itu menegaskan bahwa Iran bergerak berdasarkan rencana operasional yang matang, berbeda dengan apa yang digambarkannya sebagai strategi AS yang tidak efektif dan kurang ketelitian.

Pejabat tersebut secara khusus mengkritik pernyataan Presiden Trump soal 'target dinamis', yang dinilainya tidak berarti dalam urusan militer. Ia berpendapat bahwa kegagalan operasional AS di lapangan justru membuat Washington bergantung pada narasi media.

“Kami bertindak berdasarkan perencanaan yang jelas dan tujuan yang terdefinisi dengan baik,” ungkap pejabat itu, sambil menambahkan bahwa Iran telah mengembangkan strategi perang asimetris yang efektif untuk melemahkan lawan secara bertahap.

Diplomasi di Tengah Bara Perang

Di tengah memanasnya situasi, upaya diplomatik terus berjalan. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, diketahui melakukan pembicaraan telepon dengan rekannya dari Rusia, Sergey Lavrov, pada Minggu (5/4/2026). Percakapan mereka berfokus pada perkembangan terkini konflik serta agresi militer AS-Israel.

Dalam dialog tersebut, Araqchi mengecam keras ancaman AS untuk menyerang infrastruktur energi Iran, yang disebutnya sebagai pengakuan terang-terangan atas kejahatan perang. Ia mendesak badan internasional seperti Dewan Keamanan PBB untuk mengambil tindakan.

“Kami menyerukan pendekatan yang bertanggung jawab berdasarkan hukum internasional dari semua pihak berpengaruh di Dewan Keamanan PBB,” jelas Araqchi.

Menyikapi hal itu, Menlu Lavrov menegaskan kembali posisi Rusia yang mengutuk agresi militer terhadap Iran. Ia menekankan pentingnya menghentikan serangan ilegal terhadap target sipil, termasuk pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr, dan mendesak pemanfaatan segala peluang untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.

Korban Sipil Berjatuhan di Teheran dan Haifa

Sementara perang kata-kata dan diplomasi berlangsung, warga sipil di kedua sisi menjadi pihak yang paling menderita. Di Teheran, serangan udara gabungan AS-Israel pada Senin (6/4/2026) dini hari menghantam kawasan pemukiman padat di Kabupaten Baharestan. Media pemerintah Fars melaporkan setidaknya 13 orang tewas, dengan tim penyelamat masih berjuang menembus reruntuhan.

Hampir bersamaan, serangan balasan rudal Iran menghantam sebuah gedung apartemen tujuh lantai di Haifa, Israel. Pencarian korban yang tertimbun berlangsung selama berjam-jam pasca-ledakan, menggambarkan dahsyatnya dampak serangan tersebut.

“Ini adalah lokasi yang sangat kompleks dengan kerusakan skala besar,” ujar Ilan Ohana, juru bicara pemadam kebakaran setempat, menggambarkan situasi di lokasi kejadian.

Ketegangan Merambah Fasilitas Publik

Efek psikologis dan keamanan dari konflik ini juga mulai merambah ke tempat-tempat umum. Bandara Internasional Ben Gurion dekat Tel Aviv terpaksa dievakuasi pada Minggu sore setelah sebuah paket mencurigakan mengeluarkan asap misterius. Insiden bahan berbahaya ini tengah diselidiki otoritas Israel, menambah suasana ketidakpastian dan kewaspadaan tinggi yang telah menyelimuti kawasan sejak perang agresi pecah pada 28 Februari lalu.

Dengan kedua belah pihak bersikukuh pada posisinya dan ancaman yang kian meluas batas geografisnya, komunitas internasional menyaksikan dengan was-was sebuah konflik yang setiap saat berpotensi meledak menjadi pertikaian yang lebih luas dan menghancurkan.

Editor: Bagus Kurnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar