Israel Kecam Menteri Pertahanan Pakistan yang Sebut Negara Zionis Itu Negara Kanker

- Jumat, 10 April 2026 | 09:50 WIB
Israel Kecam Menteri Pertahanan Pakistan yang Sebut Negara Zionis Itu Negara Kanker

PARADAPOS.COM - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengecam keras pernyataan Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Muhammad Asif, yang menyebut Israel sebagai "negara kanker" dan "kutukan bagi umat manusia". Komentar keras itu muncul sebagai respons atas serangan mematikan Israel di Lebanon yang menewaskan ratusan orang, memicu ketegangan diplomatik baru di tengah upaya mediasi perdamaian yang rumit.

Kecaman Keras dari Pakistan

Dalam unggahan di platform media sosial X, Khawaja Muhammad Asif tidak hanya melontarkan kritik tajam terhadap operasi militer Israel di Lebanon, tetapi juga mendoakan pendiri negara itu. Pernyataannya datang menyusul serangan udara besar-besaran Israel pada Rabu (8/4) yang dilaporkan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka dalam jumlah besar di Lebanon, sebuah insiden yang telah memicu gelombang kecaman internasional.

Asif menulis, "Israel adalah kejahatan dan kutukan bagi umat manusia. Sementara perundingan perdamaian sedang berlangsung di Islamabad, genosida sedang dilakukan di Lebanon. Warga sipil tak berdosa dibunuh oleh Israel — pertama Gaza, kemudian Iran, dan sekarang Lebanon. Pembantaian ini terus berlanjut tanpa henti."

Lebih lanjut, dia menambahkan, "Saya berharap dan berdoa agar orang-orang yang menciptakan negara kanker ini di tanah Palestina — untuk menyingkirkan orang-orang Yahudi Eropa — itu hangus terbakar di neraka."

Respons Marah dari Israel

Kantor Perdana Menteri Netanyahu langsung membalas dengan nada yang tak kalah keras. Mereka menilai pernyataan Asif bukan sekadar kritik, melainkan seruan untuk penghancuran negara Israel, sebuah posisi yang dianggap sangat ekstrem dalam percakapan diplomatik.

Juru bicara Netanyahu menegaskan, "Ajakan Menteri Pertahanan Pakistan untuk memusnahkan Israel adalah hal yang sangat keterlaluan."

Mereka kemudian melanjutkan, "Ini bukan pernyataan yang bisa ditoleransi dari pemerintah mana pun, apalagi dari sebuah pemerintah yang mengeklaim dirinya sebagai mediator netral untuk perdamaian."

Latar Belakang Ketegangan dan Upaya Gencatan Senjata

Perang kata-kata ini terjadi dalam situasi yang sangat rentan. Latar belakangnya adalah peningkatan eskalasi militer di perbatasan Israel-Lebanon, yang berjalan beriringan dengan upaya diplomatik yang rumit. Baru pada Selasa (7/4), Amerika Serikat dan Iran—dengan Pakistan sebagai mediator—dilaporkan mengumumkan kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu.

Namun, kesepakatan itu justru memunculkan perbedaan penafsiran yang signifikan. Sementara Pakistan dan Iran menyatakan kesepakatan itu juga mencakup front Lebanon, pihak Amerika Serikat dan Israel secara tegas membantah klaim tersebut. Perbedaan pandangan inilah yang membuat situasi menjadi semakin keruh, terutama setelah militer Israel justru meningkatkan intensitas serangan ke Lebanon keesokan harinya.

Korban Jiwa yang Terus Bertambah

Dampak kemanusiaan dari konflik ini semakin dalam. Menurut laporan otoritas Lebanon, serangan pada Rabu (8/4) saja menewaskan sedikitnya 303 orang dan melukai lebih dari 1.150 warga sipil. Angka korban secara keseluruhan sejak ofensif diperluas awal Maret bahkan lebih mencengangkan: data resmi Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat 1.888 orang tewas dan 6.092 lainnya terluka. Statistik ini menggambarkan betapa brutalnya konflik yang terjadi dan menguatkan urgensi untuk segera mencari jalan damai yang berkelanjutan.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar