PARADAPOS.COM - Perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang digelar di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa titik terang pada Minggu, 12 April 2026. Wakil Presiden AS JD Vance secara resmi mengonfirmasi kegagalan negosiasi ini, dengan isu program nuklir Iran kembali menjadi batu sandungan utama yang belum terpecahkan.
Buntu di Isu Nuklir
Dalam keterangannya, JD Vance menegaskan bahwa posisi Washington tetap konsisten dan kaku pada satu prinsip fundamental. Pemerintah AS membutuhkan jaminan yang jelas dan tidak dapat ditawar dari Teheran.
“Amerika Serikat membutuhkan satu hal yang tidak bisa ditawar, yaitu komitmen dari Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir,” tegas Vance, menyoroti inti dari kebuntuan diplomatik tersebut.
Klaim Damai dari Teheran
Di sisi lain, pemerintah Iran membantah keras segala tuduhan bahwa aktivitas nuklirnya memiliki tujuan militer. Otoritas di Teheran berulang kali menekankan bahwa program mereka murni untuk keperluan sipil.
Mereka menyebut program pengayaan uranium mereka bertujuan untuk kepentingan sipil, terutama energi, ungkapnya, merujuk pada hak negara untuk memanfaatkan tenaga nuklir secara damai.
Pandangan yang bertolak belakang ini, seperti yang sering terjadi dalam diplomasi tinggi, menciptakan jurang kepercayaan yang dalam. Kegagalan di Islamabad ini bukan hanya sekadar penundaan, tetapi menandai kembali ketegangan lama yang berpotensi mengacaukan stabilitas kawasan. Para pengamat hubungan internasional memandang hasil ini sebagai kemunduran, yang menyisakan pertanyaan besar tentang jalan ke depan untuk meredakan konflik yang telah berlarut-larut.
Artikel Terkait
Serangan Udara Nigeria Tewaskan 200 Warga Sipil di Pasar Jilli
Iran Ancam AS Hadapi Pusaran Maut di Selat Hormuz Usai Perintah Blokade
AS Berlakukan Blokade Maritim ke Iran, Kecuali di Selat Hormuz
Kegagalan Perundingan AS-Iran Picu Blokade Maritim dan Lonjakan Harga Minyak Global