AS Pertahankan Blokade di Selat Hormuz, 21 Kapal Komersial Diputar Balik

- Sabtu, 18 April 2026 | 06:00 WIB
AS Pertahankan Blokade di Selat Hormuz, 21 Kapal Komersial Diputar Balik

PARADAPOS.COM - Amerika Serikat terus mempertahankan blokade laut terhadap pelabuhan Iran di kawasan Selat Hormuz, meskipun Teheran menyatakan jalur pelayaran vital tersebut telah dibuka kembali. Kebijakan ini telah memaksa sedikitnya 21 kapal komersial untuk berbalik arah sejak diberlakukan pada pertengahan April 2026, menciptakan ketidakpastian yang mendalam di jalur suplai minyak global yang paling sibuk. Situasi ini mempertajam ketegangan geopolitik di kawasan, dengan dampak langsung berupa fluktuasi harga energi dan biaya logistik internasional.

Operasi Militer dan Penegakan Blokade

Di lapangan, genggaman militer AS terasa nyata. United States Central Command (CENTCOM) secara aktif menegakkan blokade dengan mengerahkan aset-aset angkatan lautnya. Kapal perusak rudal berpemandu USS Michael Murphy, misalnya, berpatroli di perairan Laut Arab dengan tugas ganda: mengawasi setiap gerakan dan mencegah lalu lintas laut yang terkait Iran untuk melintas. Kehadirannya menjadi penanda fisik dari kebijakan Washington yang tak kenal kompromi.

Dalam pernyataan resminya, CENTCOM mengonfirmasi skala operasi tersebut.
"Sejak dimulainya blokade, sebanyak 21 kapal telah mematuhi arahan pasukan AS untuk berbalik dan kembali ke Iran," ungkapnya, mengutip laporan dari Anadolu Agency.

Dampak Global dan Ketegangan yang Berlanjut

Dampak dari kebuntuan ini bersifat global dan instan. Selat Hormuz bukanlah jalur air biasa; ia merupakan urat nadi energi dunia yang dilalui oleh sekitar seperlima pasokan minyak bumi setiap harinya. Gangguan sekecil apa pun di koridor sempit ini langsung beresonansi ke pasar komoditas, memicu lonjakan harga minyak mentah dan mendongkrak premi asuransi serta biaya pengiriman untuk kapal-kapal yang berani melintas.

Blokade ini sendiri diumumkan pada 13 April, sebagai puncak dari eskalasi konflik antara AS, Israel, dan Iran yang telah memanas sejak akhir Februari. Meskipun ada upaya meredakan ketegangan—termasuk klaim Iran bahwa Selat Hormuz dibuka dengan pembatasan tertentu sebagai bagian dari gencatan senjata di Lebanon—realitas di lapangan menunjukkan narasi yang berbeda. Pernyataan kedua belah pihak saling bertolak belakang, menciptakan kabut informasi yang justru memperparah ketidakpastian di kalangan pelaku pasar dan komunitas maritim internasional.

Pernyataan Politik dan Prospek ke Depan

Dari Washington, sinyal yang diberikan jelas dan tegas. Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa blokade tidak akan dicabut dalam waktu dekat. Kebijakan ini, menurutnya, akan terus berlaku hingga sebuah kesepakatan yang memuaskan dengan Iran tercapai. Pernyataan ini mengukuhkan blokade bukan sekadar sebagai tindakan militer temporer, melainkan sebagai alat tekanan diplomatik jangka panjang.

Dengan demikian, Selat Hormuz tetap menjadi titik api geopolitik yang paling rawan. Klaim pembukaan dari Iran belum cukup untuk mengembalikan kepercayaan dan stabilitas. Selama blokade AS tetap berlaku dan kapal-kapal perang masih berpatroli, risiko gangguan terhadap rantai pasokan energi global akan terus membayangi, mengingatkan dunia akan betapa rapuhnya jalur perdagangan yang paling strategis ini.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar