KAI Catat Lonjakan Penumpang Kereta Perkotaan, Namun Kesenjangan Jawa-Luar Jawa Jadi Tantangan

- Sabtu, 18 April 2026 | 22:50 WIB
KAI Catat Lonjakan Penumpang Kereta Perkotaan, Namun Kesenjangan Jawa-Luar Jawa Jadi Tantangan

PARADAPOS.COM - Integrasi antar moda transportasi yang digencarkan KAI Group berhasil mendorong lonjakan signifikan jumlah penumpang kereta api perkotaan pada triwulan pertama 2026. Data menunjukkan peningkatan di hampir semua layanan, dari LRT Jabodebek, kereta cepat Whoosh, hingga Commuter Line. Namun, di balik pertumbuhan yang menggembirakan ini, para pengamat justru menyoroti sebuah tantangan besar: kesenjangan pengembangan transportasi publik yang masih sangat terpusat di wilayah Jawa, khususnya Jabodetabek, meninggalkan daerah lain tertinggal.

Data Pertumbuhan yang Signifikan

Angkanya berbicara jelas. Sepanjang Januari hingga Maret 2026, LRT Jabodebek mengangkut 7,75 juta penumpang, melonjak 22,1% dibanding periode sama tahun sebelumnya. Kereta cepat Whoosh juga mencatat kenaikan 4,07% menjadi 1,4 juta penumpang. Sementara itu, KRL Commuter Line Jabodetabek tetap menjadi tulang punggung dengan 86,86 juta pengguna, naik 5,7%. Pertumbuhan bahkan lebih curam di layanan bandara dan regional, seperti Commuter Line Bandara Soekarno-Hatta yang naik 23,8% dan Commuter Line Merak yang tumbuh 11,7%.

Peningkatan kapasitas menjadi faktor pendorong utama di balik tren positif ini. Karina Amanda, VP Corporate Secretary KAI Commuter, menjelaskan bahwa program peremajaan sarana yang berjalan sejak 2025 berperan penting.

"Faktor utama yang mendorong pertumbuhan penumpang karena penambahan kapasitas angkut, di mana program peremajaan sarana KRL telah berlangsung bertahap sejak tahun 2025 sampai dengan saat ini," jelasnya.

Dia menambahkan, rangkaian kereta baru dengan konfigurasi lebih panjang serta pengoperasian stasiun-stasiun baru turut memperluas jangkauan dan daya tampung layanan.

Efisiensi: Daya Tarik Utama bagi Pengguna

Dari sisi pengguna, alasan beralih ke transportasi publik terasa sangat pragmatis: efisiensi waktu dan biaya. Dalam kondisi kemacetan ibu kota yang kian parah, kereta rel listrik dan moda terintegrasi lainnya menawarkan kepastian waktu tempuh yang sulit ditandingi kendaraan pribadi. Seperti yang diungkapkan Ave (26), seorang pekerja swasta di Jakarta, pertimbangan praktis menjadi kunci.

"Saya memilih menggunakan transportasi umum untuk aktivitas kerja sehari-hari karena lebih efisien dan praktis, terutama di tengah kondisi lalu lintas yang padat," tuturnya.

Meski mengakui bahwa kendaraan pribadi masih lebih fleksibel, penghematan biaya operasional harian menjadi nilai tambah yang signifikan bagi masyarakat urban.

Pergeseran Pola Mobilitas Kelas Menengah

Pergeseran preferensi ini bukanlah fenomena kecil. Bhima Yudhistira Adhinegara, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies, mengamati bahwa bertambahnya pilihan moda yang terintegrasi telah berhasil menarik minat kelompok menengah perkotaan.

"Ini yang membuat terjadinya pergeseran, terutama dari kelompok menengah, pekerja urban, itu yang akhirnya memanfaatkan transportasi publik juga," ungkapnya.

Selain mengatasi kemacetan, kemudahan operasional tanpa beban perawatan kendaraan pribadi semakin memperkuat daya tarik angkutan massal. Namun, di sinilah masalah kesenjangan mulai tampak jelas.

Bayang-bayang Ketimpangan yang Menguat

Di balik kesuksesan di Jawa, realitas pengembangan transportasi publik di luar pulau ini justru memperlihatkan ketimpangan yang dalam. Bhima dengan tegas menyoroti konsentrasi pembangunan yang belum merata.

"Sayangnya masih terkonsentrasi di Jawa. Di beberapa daerah di Jawa pun juga masih sangat kurang transportasi publiknya," ujarnya.

Dia menekankan perlunya akselerasi pembangunan di luar Jawa, didukung pendanaan pemerintah dan investasi yang serius. Momentum seperti krisis energi, menurutnya, bisa dimanfaatkan untuk mendorong peralihan massal ke transportasi publik yang lebih berkelanjutan.

Solusi di Luar Rel: Peran Bus dan Pendekatan Bertahap

Menanggapi tantangan ketimpangan ini, pengamat transportasi Djoko Setijowarno menawarkan perspektif yang lebih realistis. Menurutnya, pengembangan transportasi publik tidak harus selalu identik dengan pembangunan rel kereta yang mahal dan rumit.

"Untuk ketimpangan bisa dilakukan tanpa harus kereta, mulai dari bus dulu. Kereta khusus perkotaan seperti Bandung dan Surabaya," lanjutnya.

Pendekatan bertahap dengan memprioritaskan penguatan layanan bus rapid transit (BRT) di berbagai kota bisa menjadi langkah awal yang efektif. Sementara untuk kota-kota besar seperti Bandung dan Surabaya yang sudah padat, pengembangan KRL memang menjadi kebutuhan mendesak. Ekspansi LRT Jabodebek hingga Bogor, misalnya, dinilai dapat menjadi contoh baik untuk membuka alternatif mobilitas baru dan mengurangi beban jalan raya.

Dengan target pemerintah memperpanjang jaringan rel operasional dari sekitar 7.000 km menjadi 12.000 km, termasuk mereaktivasi ratusan kilometer jalur tua, jalan menuju pemerataan masih panjang. Lonjakan penumpang membuktikan bahwa integrasi moda adalah resep yang tepat untuk mendorong mobilitas perkotaan. Namun, tanpa komitmen kuat untuk memperluas kebermanfaatan ini ke luar Jawa, kesenjangan akses terhadap transportasi publik yang layak justru berisiko melebar, mengubur potensi pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif di daerah.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar