PARADAPOS.COM - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka menyatakan bahwa militernya tidak akan menggunakan senjata nuklir dalam konflik yang sedang berlangsung dengan Iran. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Trump di Gedung Putih saat menjawab pertanyaan wartawan, Jumat (24/4/2026), di tengah kebuntuan negosiasi damai yang berpusat pada program pengayaan uranium Iran. Trump juga menegaskan bahwa dirinya menginginkan kesepakatan damai yang bersifat permanen, dengan syarat utama Iran tidak memiliki akses terhadap senjata nuklir.
Suasana di ruang briefing Gedung Putih terasa tegang ketika seorang wartawan melontarkan pertanyaan langsung mengenai kemungkinan penggunaan senjata nuklir. Trump, dengan nada tegas, langsung memotong spekulasi yang beredar.
"Tidak, saya tidak akan menggunakannya," katanya.
Ia kemudian menambahkan penegasan yang lebih luas, seolah ingin menghilangkan keraguan publik. "Senjata nuklir seharusnya tidak boleh digunakan oleh siapa pun," ujarnya.
Kebuntuan di Meja Perundingan
Pernyataan Trump ini muncul di tengah alotnya jalur diplomasi antara kedua negara. Putaran pertama perundingan damai yang digelar di Pakistan pada 11-12 April lalu berakhir tanpa hasil. Sumber-sumber diplomatik menyebutkan, tidak adanya titik temu soal program pengayaan uranium Iran menjadi batu sandungan utama.
Trump menjelaskan bahwa ambisinya dalam negosiasi ini bukan sekadar gencatan senjata jangka pendek. Ia menginginkan jaminan keamanan yang bertahan lama. "Saya ingin kesepakatan itu abadi. Saya ingin kesepakatan itu memastikan mereka tidak akan pernah mendapatkan, tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk mendapatkan (senjata nuklir)," tuturnya.
Klaim Kemampuan Militer AS
Dalam kesempatan tersebut, Trump juga melontarkan klaim mengenai efektivitas serangan militer AS. Ia menyebut bahwa saat ini Iran tidak akan mampu membuat senjata nuklir, setidaknya untuk dua dekade ke depan. Menurutnya, militer AS telah berhasil melumpuhkan kemampuan nuklir Iran dalam serangan pada Juni 2025 dan selama rangkaian perang terbaru ini.
Klaim ini, jika akurat, membuka peluang bagi AS untuk menjajaki kesepakatan sementara dengan Iran. Dengan berkurangnya ancaman langsung, tekanan untuk mencapai resolusi penuh mungkin bisa sedikit dikendurkan, memberikan ruang bagi diplomasi yang lebih teknis dan bertahap.
Namun, pernyataan Trump ini tetap menyisakan pertanyaan besar di kalangan analis: apakah jaminan untuk tidak menggunakan senjata nuklir ini adalah strategi untuk meredakan ketegangan global, atau justru sinyal bahwa AS memiliki opsi militer konvensional yang lebih masif dalam skenario terburuk?
Artikel Terkait
Reza Pahlavi Dilempar Saus Tomat saat Konferensi Pers di Berlin
Iran Siap Tempur Penuh, Sebut Perpanjangan Gencatan Senjata oleh AS sebagai Taktik Penguluran Waktu
IRGC Sita Dua Kapal Kargo di Selat Hormuz, Iran Tuding Pelanggaran Aturan Maritim
Iran Pamerkan Rudal Balistik di Jalanan Teheran, Kirim Pesan Kekuatan ke AS dan Israel