Kanselir Jerman Kecam Iran yang Dianggap Permalukan AS, Soroti Gagalnya Diplomasi Washington di Pakistan

- Selasa, 28 April 2026 | 03:25 WIB
Kanselir Jerman Kecam Iran yang Dianggap Permalukan AS, Soroti Gagalnya Diplomasi Washington di Pakistan

PARADAPOS.COM - Kanselir Jerman Friedrich Merz melontarkan kritik tajam terhadap Amerika Serikat pada Senin lalu, menyebut kepemimpinan Iran telah mempermalukan Washington di panggung internasional. Menurut Merz, para pejabat AS melakukan perjalanan diplomatik ke Pakistan namun harus pulang tanpa membawa hasil apa pun. Pernyataan ini disampaikan di tengah ketegangan yang terus memanas antara AS dan Iran, serta mengungkap keretakan hubungan antara Washington dan sekutu NATO-nya di Eropa.

Berbicara di hadapan mahasiswa di kota Marsberg, negara bagian Rhine Utara-Westphalia, Merz mengomentari kemampuan negosiasi Iran. "Jelas sekali Iran sangat terampil dalam bernegosiasi, atau lebih tepatnya, sangat terampil dalam tidak bernegosiasi, membiarkan Amerika melakukan perjalanan ke Islamabad dan kemudian pergi lagi tanpa hasil apa pun," ujarnya.

Kanselir Jerman itu juga menyoroti peran Garda Revolusioner Iran. "Seluruh bangsa dipermalukan oleh kepemimpinan Iran, terutama oleh apa yang disebut Garda Revolusioner ini. Dan karena itu saya berharap ini berakhir secepat mungkin," tambahnya dengan nada tegas.

Keretakan Hubungan AS dan Sekutu Eropa

Komentar Merz ini menjadi cermin bagi perpecahan yang semakin dalam antara Washington dan sekutu NATO di Eropa. Hubungan yang sudah renggang akibat perbedaan pandangan soal Ukraina kini semakin memburuk. Presiden AS Donald Trump, dalam beberapa kesempatan, melontarkan kritik pedas kepada negara-negara NATO karena dinilai enggan mengirimkan angkatan laut mereka untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz.

Akibat konflik tersebut, jalur air strategis itu praktis tertutup. Dampaknya langsung terasa: pasar global mengalami kekacauan dan pasokan energi terganggu pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Jerman Tidak Dikonsultasikan Sebelum Serangan

Merz menegaskan bahwa Jerman dan negara-negara Eropa lainnya tidak dilibatkan dalam konsultasi sebelum AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Pemerintah Jerman, menurutnya, baru menyampaikan keraguan mereka kepada Trump setelah serangan itu terjadi.

"Jika saya tahu bahwa ini akan berlanjut seperti ini selama lima atau enam minggu dan semakin memburuk, saya akan mengatakan kepadanya dengan lebih tegas," kata Merz, sambil membandingkan situasi saat ini dengan pengalaman pahit AS di Irak dan Afghanistan di masa lalu.

Harapan untuk menghidupkan kembali proses perdamaian semakin meredup setelah Trump membatalkan kunjungan utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, ke Islamabad, Pakistan, pada Sabtu lalu. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dilaporkan melakukan perjalanan ke Rusia pada Senin setelah pembicaraan di Pakistan dan Oman gagal mencapai titik temu.

Penyapu Ranjau di Selat Hormuz

Mengenai kondisi Selat Hormuz, Merz mengungkapkan bahwa jalur perairan tersebut setidaknya sebagian telah dipasangi ranjau. "Kami telah menawarkan, juga sebagai orang Eropa, untuk mengirim kapal penyapu ranjau Jerman untuk membersihkan selat tersebut, yang jelas sebagian telah dipasangi ranjau," jelasnya.

Kanselir Jerman itu juga mengakui bahwa konflik berkepanjangan ini telah menguras kantong negaranya. "Konflik ini merugikan Jerman banyak uang, banyak uang pembayar pajak dan banyak kekuatan ekonomi," pungkasnya.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar