Trump Tolak Usulan Iran Tunda Pembahasan Nuklir, Negosiasi Perdamaian Kian Buntu

- Rabu, 29 April 2026 | 03:00 WIB
Trump Tolak Usulan Iran Tunda Pembahasan Nuklir, Negosiasi Perdamaian Kian Buntu

PARADAPOS.COM - Upaya perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan buntu. Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan ketidakpuasannya terhadap proposal terbaru dari Teheran, yang mengusulkan agar pembahasan program nuklir ditunda hingga perang usai dan sengketa pelayaran di Teluk terselesaikan. Sikap ini mempertegas kebuntuan di tengah konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari lalu, dengan dampak yang mulai terasa di pasar energi global.

Menurut seorang pejabat AS yang mengetahui pembahasan internal di Gedung Putih, Trump bersikeras agar isu nuklir dibahas sejak awal, bukan ditunda ke tahap akhir negosiasi. Pandangan ini langsung disampaikannya melalui unggahan di platform Truth Social.

"Iran baru saja memberi tahu kami bahwa mereka berada dalam 'Keadaan Keruntuhan'. Mereka ingin kami 'Membuka Selat Hormuz' secepat mungkin, karena mereka mencoba menyelesaikan masalah kepemimpinan mereka (yang saya yakini akan dapat mereka lakukan!)," tulis Trump, dikutip dari Reuters, Rabu 29 April 2026.

Hingga saat ini, belum jelas bagaimana Iran menyampaikan pesan tersebut. Pihak Teheran pun belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan Trump.

Kebuntuan di Lapangan dan Perubahan Kepemimpinan

Sementara itu, dari pihak Iran, seorang juru bicara militer menyatakan kepada media pemerintah bahwa Republik Islam tidak menganggap perang telah berakhir. Sejak konflik pecah pada 28 Februari, Iran membatasi sebagian besar lalu lintas kapal di Selat Hormuz—jalur vital bagi perdagangan energi global—hanya untuk pengiriman miliknya sendiri. Sebagai respons, Amerika Serikat mulai memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal Iran pada bulan ini.

Harapan untuk menghidupkan kembali proses perdamaian semakin tipis. Rencana kunjungan utusan khusus AS, Steve Witkoff, dan menantu Trump, Jared Kushner, ke Pakistan dibatalkan pada akhir pekan lalu. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi justru bolak-balik ke Islamabad untuk membawa proposal perdamaian tersebut.

Dinamika politik internal Iran turut memengaruhi jalannya negosiasi. Setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei pada hari pertama perang, posisinya digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei, yang dilaporkan mengalami luka. Sejumlah pejabat Iran dan analis menilai bahwa perubahan kepemimpinan ini memberi pengaruh lebih besar kepada komandan garis keras dari Islamic Revolutionary Guard Corps. Akibatnya, sikap Iran dalam perundingan menjadi semakin keras.

Proposal Bertahap yang Ditolak

Dalam proposal yang dibawa Iran, pembicaraan dirancang secara bertahap. Tahap pertama adalah penghentian perang dan jaminan bahwa AS tidak akan memulai kembali konflik. Setelah itu, barulah dibahas penghentian blokade laut oleh Angkatan Laut AS serta pembukaan kembali Selat Hormuz di bawah kendali Iran. Isu lain, termasuk sengketa lama terkait program nuklir Iran dan hak pengayaan uranium, baru akan dibicarakan setelah tahap-tahap awal tersebut selesai.

Namun, tawaran ini ditolak mentah-mentah oleh Gedung Putih. Trump menginginkan agar isu nuklir menjadi prioritas utama, bukan sesuatu yang ditunda.

Dampak ke Pasar Energi Global

Di tengah kebuntuan negosiasi, dampak perang semakin terasa di pasar energi global. Harga minyak kembali merangkak naik. Minyak mentah Brent meningkat hampir 3 persen menjadi sekitar 111 dolar AS per barel. Bank Dunia memperingatkan bahwa harga energi bisa melonjak hingga 24 persen pada tahun 2026 jika gangguan akibat perang ini terus berlanjut.

Konflik ini juga memicu ketegangan di antara negara-negara produsen minyak di kawasan Teluk. Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan memutuskan keluar dari kelompok OPEC dan OPEC , menandakan adanya perbedaan sikap terhadap situasi Iran.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler