Ustaz Abdul Somad Bela Gubernur Riau Ditangkap KPK, Dampak & Analisis Politik

- Senin, 10 November 2025 | 08:25 WIB
Ustaz Abdul Somad Bela Gubernur Riau Ditangkap KPK, Dampak & Analisis Politik
Ustaz Abdul Somad dan Dukungan Politik: Analisis Terkini Kasus Gubernur Riau

Ustaz Abdul Somad dan Dukungan Politik: Analisis Terkini Kasus Gubernur Riau

Gubernur Riau, Abdul Wahid, resmi ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Menanggapi hal ini, penceramah kondang Ustaz Abdul Somad (UAS) langsung membela dengan menyatakan bahwa proses tersebut hanyalah permintaan keterangan, bukan penangkapan.

Publik tentu lebih mempercayai pernyataan Ustaz Abdul Somad, mengingat posisinya sebagai mubalig populer. Namun, apakah UAS memiliki informasi khusus dari dalam KPK? Ternyata tidak. Faktanya, seseorang yang sudah digelandang KPK seperti Gubernur Riau ini kecil kemungkinannya untuk bebas, apalagi ini bukan pengalaman pertama bagi Gubernur Riau berurusan dengan KPK.

Dukungan UAS dan Realitas Politik

Pengalaman pertama Gubernur Riau yang didukung UAS justru berakhir di penjara. Pertanyaannya, mengapa UAS tidak kapok memberikan dukungan politik seperti ini? Mengapa UAS tidak maju sendiri sebagai calon Gubernur Riau?

Kasus Abdul Wahid ini cukup memprihatinkan. Kabarnya, ia sempat melarikan diri sebelum akhirnya ditangkap di sebuah kafe. Tindakan melarikan diri seperti ini dinilai sangat kuno. Seharusnya, ia menunggu saja atau bahkan mendatangi Ustaz Abdul Somad. Apakah KPK masih berani menangkap atau UAS masih berani membela?

Pelajaran dari Kasus Hukum dan Politik

Di Indonesia, pejabat yang mudah ditangkap menandakan kurangnya backup politik yang kuat. Bandingkan dengan kasus Bobby Nasution, dimana kepala dinasnya ditangkap, namun ia sendiri bisa lolos. Bahkan, ada yang sudah divonis bersalah sekalipun masih bisa bebas. Inilah realitas hukum kita saat ini.

Namun, fokus kita adalah hubungan antara Abdul Wahid dan Ustaz Abdul Somad. Ternyata, dukungan ustaz populer sekaliber UAS tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap integritas pejabat, kecuali pada masa kampanye saja.

Ustaz Populer dan Dunia Politik Praktis

Pada Pilpres lalu, banyak yang mengingatkan para ustaz kondang untuk tidak terlibat dalam politik dukung-mendukung calon. Jamaah ustaz populer biasanya tersebar di berbagai kubu politik. Jika mereka hanya mendukung satu calon, jamaah yang mendukung calon lain akan merasa tidak nyaman.

Ustaz populer seperti Ustaz Abdul Somad, Ustaz Adi Hidayat, Aa Gym, dan Gus Baha justru populer karena netralitas politik mereka sejak awal. Jika mereka terjun ke politik praktis, kepopuleran mereka akan berkurang. Banyak ustaz yang aktif di partai politik, namun tidak ada yang sepopuler mereka.

Masa Depan UAS dalam Politik

Pertanyaan besarnya adalah apakah ini akhir dari keterlibatan UAS dalam politik praktis atau justru awal baginya untuk benar-benar terjun ke dunia politik? Maju sebagai calon gubernur berikutnya bisa menjadi langkah yang perlu dipertimbangkan UAS.

Politik Indonesia memang cair. Politisi dengan mudah berpindah partai. Yang kemarin bersikap seperti nabi, saat terpilih justru terlibat korupsi. Ini bukan kejadian sekali dua kali.

Kasus terbaru adalah Projo yang dengan mudah mengubah arti namanya dari Pro Jokowi menjadi Pro Rakyat. Mereka yang dulu mendefinisikan, kini dengan mudah mengoreksinya.

Dalam politik seperti ini, aneh jika ustaz populer masih terlibat dukung-mendukung calon tanpa informasi yang akurat. Ustaz Abdul Somad kini terkena imbasnya. Dukungannya terhadap Abdul Wahid yang diduga meminta jatah preman justru menjadi bumerang.

Apakah UAS akan belajar dari pengalaman ini? Atau justru akan semakin dalam terjun ke politik praktis? Waktu yang akan menjawabnya.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar