Indonesia Stop Impor Solar 2026: Dampak, Target, dan Akhir Antrean Panjang di SPBU

- Rabu, 14 Januari 2026 | 02:25 WIB
Indonesia Stop Impor Solar 2026: Dampak, Target, dan Akhir Antrean Panjang di SPBU

Data impor solar menunjukkan penurunan signifikan menuju target nol impor:

  • Tahun 2024: 8,3 juta ton
  • Tahun 2025: Turun menjadi sekitar 5 juta ton (dibantu program biodiesel)
  • Januari–Oktober 2025: 4,01 juta ton
  • Tahun 2026: Target NOL impor solar

Apa Artinya Bagi Masyarakat dan Pengendara?

Dampak paling terasa langsung adalah:

  • Antrean panjang truk di SPBU akan berkurang drastis karena ketersediaan solar tercukupi.
  • Stabilitas pasokan untuk sektor vital seperti transportasi logistik, pertanian, dan perikanan.
  • Mengurangi tekanan pada APBN karena beban subsidi bisa lebih terkontrol.
Tentu, efektivitas kebijakan ini perlu didukung oleh sistem distribusi yang merata dan pengawasan ketat terhadap penyaluran subsidi.

Langkah Selanjutnya: Stop Impor Bensin pada 2029

Stop impor solar adalah babak pertama. Pemerintah menargetkan langkah lebih besar, yaitu menghentikan impor bensin pada tahun 2029. Jika tercapai, potensi penghematan devisa bisa mencapai Rp250 triliun per tahun.

Dukungan Biodiesel Sawit (B40)

Program Biodiesel B40 yang telah berjalan sejak 2025 turut mempercepat penurunan impor solar. Program ini tidak hanya menghemat devisa tetapi juga meningkatkan serapan minyak sawit domestik, mendukung kesejahteraan petani dan ekonomi hijau.

Kesimpulan: Menuju Kemandirian Energi

Kebijakan stop impor solar 2026 adalah pernyataan politik yang tegas tentang kedaulatan energi. Dengan beroperasinya RDMP Balikpapan dan dukungan program biodiesel, ketergantungan pada pasokan luar negeri akan terputus. Masyarakat dapat berharap SPBU kembali berfungsi sebagai tempat pengisian bahan bakar yang lancar, bukan lokasi uji kesabaran.

Ini adalah fondasi menuju kemandirian energi Indonesia yang lebih kuat dan berkelanjutan.

(Ketua Satupena Kalbar)

Halaman:

Komentar