Data awal Kemenkes mengungkap fakta mengejutkan. Berkat program CKG, setidaknya ada potensi penambahan hingga 10 juta orang, termasuk lansia, yang terdeteksi memiliki masalah tekanan darah tinggi (hipertensi).
Endang menegaskan bahwa pola penghematan belum terlihat di tahun pertama. Hal ini karena jumlah pasien yang membutuhkan tindakan medis kompleks seperti operasi pasang ring jantung atau cuci darah (hemodialisa) belum menunjukkan penurunan.
"Kita belum bisa mengasumsikan tahun pertama sudah terjadi penghematan besar," tutur Endang.
Fokus 2026: Perbaiki Tatalaksana untuk Efisiensi Jangka Panjang
Menyikapi data tersebut, Kemenkes berencana melakukan perombakan tatalaksana penanganan medis pada tahun 2026. Fokus strateginya adalah memastikan pasien yang terdeteksi dini ditangani tuntas di tingkat Puskesmas dan fasilitas kesehatan primer, sehingga tidak berlanjut ke tahap pengobatan yang lebih mahal di rumah sakit.
"Jadi tahun 2026 ini Kemenkes akan memperbaiki di bagian tatalaksana tadi. Di jangka panjang, ketika kita berhasil melakukan tatalaksana yang baik, barulah penghematan itu akan terjadi," pungkas Endang Sumiwi.
Kesimpulan: Klaim penghematan anggaran dari Program CKG Prabowo Subianto berpotensi terealisasi dalam jangka panjang. Namun, Kemenkes memprediksi adanya beban anggaran jangka pendek yang meningkat pada 2026 akibat meledaknya temuan kasus baru, sebelum efisiensi dari penanganan dini di layanan primer benar-benar terwujud.
Artikel Terkait
Mbak Rara Diusir dari Labuhan Keraton Jogja: Fakta Lengkap & Klarifikasi Resmi
Viral Video Dugaan Pesta LGBT di Cirebon, 2 Pria Ditangkap Polisi: Kronologi Lengkap
Fakta Mengejutkan! Banyak Anggota Dewan Lulusan Paket C, Ini Peran Krusial PKBM
Suami Korban Jambret Sleman Jadi Tersangka, Ini Kronologi Kejar Pelaku hingga Tewas