Surya Paloh dan Posisi Kunci NasDem dalam Dinamika Awal Pilpres 2029

- Rabu, 25 Februari 2026 | 01:25 WIB
Surya Paloh dan Posisi Kunci NasDem dalam Dinamika Awal Pilpres 2029

PARADAPOS.COM - Peta politik jelang Pilpres 2029 mulai menunjukkan dinamika awal, dengan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh kembali menjadi figur kunci yang diperhitungkan. Analisis ini muncul menyusul gelaran buka puasa bersama NasDem yang dihadiri sejumlah tokoh besar dari berbagai partai, mengindikasikan kemampuan Paloh menjaga jaringan politik lintas koalisi. Posisi strategis NasDem, yang secara formal berada dalam koalisi pemerintah namun tanpa wakil di kabinet, memberi ruang manuver yang unik bagi Paloh dalam meracik langkah menuju kontestasi lima tahun mendatang.

Jaringan dan Posisi Unik di Tengah Koalisi

Kemampuan Surya Paloh menghadirkan tokoh-tokoh seperti Jusuf Kalla, Puan Maharani, Anies Baswedan, hingga Zulkifli Hasan dalam satu forum bukanlah hal sepele di tengah iklim politik yang kerap terkotak. Pertemuan itu memperlihatkan jaringan dan kapasitasnya sebagai "penjaga komunikasi" antar kekuatan politik. Posisi NasDem sendiri cukup menarik: partai ini menyatakan diri bagian dari koalisi pendukung pemerintah, namun memilih untuk tidak menempatkan kadernya di jajaran kabinet. Pilihan ini, diamati sejumlah pengamat, memberikan fleksibilitas lebih besar bagi Paloh untuk mengambil sikap politik yang berbeda di masa depan.

Kesadaran akan posisi itu tampak dalam berbagai kesempatan. Berbeda dengan sejumlah partai koalisi lain yang sudah mulai menyuarakan dukungan untuk periode kedua Prabowo Subianto, sikap NasDem terlihat lebih berhati-hati dan belum mengikat.

Peluang dan Tantangan Meracik Calon 2029

Dengan peta yang masih sangat cair, sejumlah skenario potensial mulai mencuat. NasDem dinilai masih memiliki peluang untuk tidak mengusung Prabowo dan justru memilih calon sendiri atau membangun koalisi alternatif. Salah satu nama yang kerap dikaitkan adalah Anies Baswedan, meski hal ini dianggap kompleks mengingat Anies kini memiliki wadah politik sendiri, Partai Gerakan Rakyat (PGR). Skema koalisi dengan PDIP, seperti yang pernah terjadi pada 2014, juga disebut sebagai salah satu opsi yang memungkinkan.

Namun, komposisi pasangannya akan sangat berbeda. "Anies jadi Cawapres ini juga mustahil, karena sudah pernah jadi Capres," tulis analis politik Erizal dalam catatannya. Ia melanjutkan, "Tapi Surya Paloh tentu punya racikannya sendiri." Pernyataan ini menggarisbawahi keyakinan bahwa Paloh, dengan pengalaman panjangnya di dunia jurnalistik dan politik, memiliki formula tersendiri yang mungkin belum terlihat di permukaan.

Isu Ambang Batas dan Kompetisi Internal

Di luar soal pencapresan, isu lain yang konsisten diusung Paloh adalah penguatan ambang batas parlemen menjadi 7 persen. Meski Mahkamah Konstitusi telah membatalkan syarat ambang batas pencapresan, wacana penyederhanaan partai melalui ambang batas tinggi untuk kursi legislatif tetap digaungkan. Analisis politik melihat ada dimensi lain dari wacana ini. Dalam pandangan sejumlah pengamat, usulan tersebut bisa jadi juga bertujuan untuk menjegal partai seperti PSI yang sedang agresif melakukan ekspansi, agar tidak mudah masuk ke parlemen.

Dinamika dengan PSI menjadi catatan tersendiri. Partai yang secara terang-terangan disebut "menggerogoti" dengan menarik kader-kader NasDem ini, menunjukkan semangat tinggi dan menargetkan posisi pemenang ketiga. Target tersebut bahkan belum berhasil dicapai NasDem setelah tiga kali pemilu. Situasi ini menambah lapisan persaingan dan kemungkinan strategi politik Surya Paloh yang tidak hanya berfokus pada level presiden, tetapi juga pada pertarungan elektoral di tingkat partai.

Dengan berbagai variabel dan kemungkinan yang ada, peran Surya Paloh sebagai "poros" dalam lima tahun ke depan akan terus diuji. Kemampuannya merawat jaringan, membaca peluang, dan mengambil posisi di tengah ketegangan koalisi akan menentukan bukan hanya masa depan NasDem, tetapi juga mempengaruhi bentuk peta koalisi Pilpres 2029.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar