PARADAPOS.COM - Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara operasi 47 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai wilayah Indonesia. Tindakan ini diambil menyusul temuan evaluasi yang mengungkap sejumlah menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tidak layak konsumsi, seperti roti berjamur, buah busuk berbelatung, dan lauk basi. Penghentian massal ini menandai ujian serius bagi pengawasan program gizi nasional yang menyasar kesehatan jutaan siswa.
Evaluasi Ungkap Temuan yang Mengkhawatirkan
Pada pertengahan Februari 2026, tim pemantauan BGN melakukan inspeksi mendadak ke sejumlah dapur penyelenggara MBG. Hasilnya, seperti diungkapkan dalam laporan resmi, cukup memprihatinkan. Bukan hanya ketidaksesuaian menu dengan standar, tetapi ditemukan pula bahan pangan yang sudah jelas rusak dan berpotensi membahayakan kesehatan anak-anak. Temuan ini tersebar di tiga wilayah utama, dengan konsentrasi terbesar di Wilayah II.
Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, memaparkan rincian masalah tersebut. "Temuan meliputi roti berjamur, buah busuk dan berbelatung, lauk basi, telur mentah atau busuk, hingga menu yang tidak sesuai standar kualitas," jelasnya dalam pernyataan tertulis pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Kebijakan "Zero Tolerance" dan Penyelidikan Mendalam
Menanggapi temuan itu, BGN menerapkan kebijakan tanpa kompromi. Penghentian operasional sementara bukan sekadar hukuman administratif, melainkan bagian dari mekanisme koreksi sistemik yang ketat. Fokus penyelidikan diperluas, tidak hanya pada produk akhir yang gagal, tetapi juga menyisir celah dalam manajemen dapur, rantai pasok, dan prosedur kontrol kualitas yang diduga jebol.
Nanik kembali menegaskan prinsip yang dipegang institusinya. "Kami tidak mentolerir penyimpangan. Program MBG menyangkut kesehatan anak-anak dan kredibilitas negara dalam menjamin asupan gizi. Pengawasan kami lakukan secara ketat dan transparan," tegasnya.
Proses Verifikasi Ulang yang Ketat
Ke-47 SPPG yang terkena sanksi tidak dapat beroperasi kembali dengan mudah. Mereka diwajibkan memenuhi seluruh rekomendasi perbaikan dari BGN terlebih dahulu. Proses verifikasi ulang akan dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan setiap titik kritis dalam penyiapan makanan telah diperbaiki. Tujuannya jelas: memastikan setiap porsi yang diterima siswa benar-benar bergizi dan aman, mengembalikan kepercayaan pada program yang vital ini.
Langkah tegas ini, meski terpaksa diambil di tengah bulan Ramadhan, menunjukkan komitmen untuk tidak mengorbankan standar keamanan pangan. Nasib puluhan dapur tersebut kini bergantung pada kemampuan mereka membenahi sistem secara fundamental, sebelum kompor-kompor mereka boleh dinyalakan kembali untuk melayani masyarakat.
Artikel Terkait
Anies Soroti Dinasti Politik dan Kesetaraan Jelang Gugatan Larangan Keluarga Petahana di MK
SBY Soroti Negosiasi Nuklir AS-Iran dan Risiko Perang dalam Esai Terbaru
Kekerasan terhadap Mahasiswi UIN Suska Riau Ungkap Dugaan Perselingkuhan
Video Kedekatan Mahasiswi UIN Riau dengan Terduga Pelaku Bacok Viral, Polisi Selidiki Motif