Dino Patti Djalal Nilai Wacana Mediasi Prabowo antara AS-Iran Tidak Realistis

- Minggu, 01 Maret 2026 | 05:25 WIB
Dino Patti Djalal Nilai Wacana Mediasi Prabowo antara AS-Iran Tidak Realistis

PARADAPOS.COM - Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal menilai wacana Presiden Prabowo Subianto menjadi mediator antara Iran dan Amerika Serikat pasca serangan militer AS-Israel di Teheran sebagai langkah yang tidak realistis. Pernyataan kesiapan Prabowo itu muncul dari Kementerian Luar Negeri hanya beberapa jam setelah serangan terjadi, memicu analisis mendalam dari kalangan diplomatik mengenai kelayakan dan prospek inisiatif perdamaian tersebut.

Analisis Diplomat Senior: Empat Alasan Ketidakrealistisan

Sebagai mantan diplomat dan pengamat politik, Dino Patti Djalal mengaku heran mengapa ide tersebut tidak disaring lebih dulu sebelum diumumkan ke publik. Dalam sebuah video yang diunggah di akun Instagram pribadinya, ia memaparkan empat alasan pokok yang mendasari penilaiannya.

“Sebagai political scientist yang independen dan juga sebagai mantan diplomat Indonesia, saya heran kenapa ide ini tidak difilter dulu sebelum diumumkan karena sangat tidak realistis,” ungkapnya.

Ego Superpower dan Konteks Politik Domestik AS

Alasan pertama yang diajukan Dino menyangkut karakter diplomasi Amerika Serikat. Menurutnya, AS jarang bersedia dimediasi pihak ketiga saat telah melancarkan operasi militer. Hal ini, tuturnya, berkaitan dengan citra dan posisi negara tersebut di panggung global.

“Ego Amerika sebagai negara superpower terlalu tinggi untuk menerima itu,” tegas Dino.

Ia meyakini Presiden Donald Trump tidak menginginkan campur tangan Indonesia, terlebih dalam situasi di mana Trump dinilai sedang fokus untuk mendesak pemerintahan Iran. Dino juga mengutip informasi dari rekan-rekannya di Washington DC yang menyebut serangan ke Iran sebagai upaya pengalihan isu dari skandal Epstein Files yang dinilai mulai membayangi Trump.

“Kasus Epstein Files yang sekarang makin merongrong pribadi Presiden Donald Trump,” lanjutnya.

Dinamika Hubungan Indonesia-Iran yang Belum Mendalam

Alasan kedua berkaitan dengan kedekatan politik antara Jakarta dan Teheran. Dino mencatat, dalam 15 bulan terakhir, tidak pernah terjadi kunjungan Presiden Prabowo ke Iran atau pertemuan bilateral dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, meski ada undangan yang dilayangkan. Bahkan, pertemuan di sela forum multilateral seperti KTT BRICS atau D-8 pun tidak terealisasi.

Hal serupa terjadi di tingkat menteri luar negeri. Menteri Luar Negeri Sugiono disebutkan belum pernah melakukan kunjungan bilateral ke Teheran.

“Walaupun pernah bertemu sekali dengan Menlu Iran di Jenewa,” ujarnya.

Dari situasi ini, Dino menyimpulkan bahwa fondasi kepercayaan yang diperlukan untuk mediasi yang efektif belum terbangun.

“Dengan kata lain, belum ada suatu kedekatan atau trust dari pemerintah Iran terhadap pemerintah Indonesia sekarang ini,” jelasnya.

Logika Mediasi yang Mustahil Secara Teknis dan Politik

Dua alasan terakhir menyentuh aspek teknis dan risiko politik yang mustahil diabaikan. Ketiga, Dino mempertanyakan kemungkinan pihak yang menyerang, yaitu Presiden Trump dan Menlu AS Marco Rubio, bersedia datang ke Teheran untuk berunding.

“Ini tidak realistis dan tidak akan mungkin terjadi. Kita harus jujur mengenai hal ini,” tegas Dino.

Keempat, upaya mediasi yang komprehensif juga harus melibatkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai pihak utama penyerang. Pertemuan antara Prabowo dan Netanyahu, menurut Dino, adalah hal yang tidak mungkin baik secara politik, diplomatik, maupun logistik. Bahkan, langkah tersebut berpotensi menjadi bumerang politik di dalam negeri.

Dino menyatakan pertemuan Prabowo dan Netanyahu berarti political suicide alias bunuh diri politik bagi Presiden Prabowo di dalam negeri. “Saya sungguh tidak tahu dari mana datangnya ide yang menakjubkan ini agar Presiden Prabowo terbang ke Teheran untuk menjadi mediator konflik segitiga ini,” tutupnya dengan nada skeptis.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar