PARADAPOS.COM - Ramainya perbincangan di media sosial tentang prediksi kehancuran Israel pada 2027 mendorong Ustaz Abu Humairoh memberikan pencerahan. Dalam sebuah ceramah, ulama tersebut mengajak umat Islam untuk menyikapi isu tersebut dengan proporsional, berlandaskan pada tuntunan Al-Quran dan pendapat para ahli tafsir, alih-alih terpancing pada spekulasi waktu yang belum pasti.
Asal-Usul Prediksi 2027 dan Tafsir Angka 40 Tahun
Ustaz Abu Humairoh menjelaskan bahwa wacana tersebut kerap dikaitkan dengan ijtihad mendiang Syekh Ahmad Yasin, tokoh pejuang Palestina. Ijtihad itu menafsirkan pola siklus 40 tahun yang dialami Bani Israil dalam Al-Qur'an. Sebagian pihak kemudian menghubungkannya dengan kelahiran gerakan Hamas sekitar tahun 1987-1988. Dari titik itu, ditambahkan 40 tahun, sehingga muncullah perkiraan tahun 2027 sebagai masa puncak atau pergolakan.
Namun, penjelasan ini langsung ia tegaskan sebagai sebuah penafsiran, bukan suatu kepastian yang mutlak.
“Kalau prediksi itu benar, tentu kita berharap Palestina merdeka dan kezaliman segera berakhir. Tapi jika tidak terjadi, jangan menyalahkan Al-Qur’an. Bisa jadi yang keliru adalah penafsiran manusianya,” jelasnya.
Merenungkan Ayat Al-Quran dan Batasan Pengetahuan Manusia
Lebih lanjut, ustaz yang dikenal dengan pendalaman ilmunya ini merujuk pada Surah Al-Isra ayat 4-8. Ayat tersebut menyebutkan bahwa Bani Israil akan membuat kerusakan di muka bumi dua kali. Banyak ulama tafsir meyakini kerusakan pertama telah terjadi di masa silam, sementara kerusakan kedua diyakini sedang berlangsung di era modern ini.
Meski pola sejarah dan nubuat dapat dipelajari, Ustaz Abu Humairoh menekankan bahwa manusia tidak diberi wewenang untuk memastikan waktu kejadiannya. Fokus umat, menurutnya, harus dialihkan dari menebak-nebak tahun ke arah yang lebih substantif.
“Janji Allah pasti benar, tetapi kapan terjadinya itu adalah urusan Allah. Tugas umat Islam bukan menebak tahun, melainkan memperbaiki diri, bersatu, dan membantu saudara-saudara di Palestina,” ujarnya.
Seruan untuk Aksi Nyata dan Persatuan
Di akhir penjelasannya, Ustaz Abu Humairoh mengajak seluruh umat untuk berkontribusi sesuai kapasitas masing-masing. Langkah-langkah konkret seperti doa, bantuan kemanusiaan, penyebaran informasi yang valid, hingga boikot terhadap produk pendukung penjajahan, dinilainya lebih bermakna daripada sekadar berdebat tentang waktu.
Ia meyakini bahwa kemenangan hakiki akan tercapai bila umat Islam kembali kepada ajaran agamanya secara kaffah dan mempererat tali persatuan. Pesan penutupnya mengingatkan kembali tentang hakikat harapan dan ketidakpastian waktu.
“Harapan kita tetap sama, yaitu kemerdekaan Palestina dan berakhirnya kezaliman. Tetapi kepastian waktunya hanya Allah yang mengetahui,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Menkominfo Protes Moderasi Meta: Lambat Tangani Hoaks, Cepat Hapus Konten Palestina
Pesawat Garuda Indonesia Alami Kerusakan Moncong Diduga Tertabrak Objek Asing
Kapal Tunda UEA Tenggelam di Selat Hormuz, Tiga WNI Hilang
Vidi Aldiano Dimakamkan di Tanah Kusir Usai Perjuangan Enam Tahun Lawan Kanker Ginjal