PARADAPOS.COM - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan varian baru Covid-19 yang dijuluki "Cicada" telah terdeteksi di lebih dari 23 negara. Varian dengan kode ilmiah BA.3.2 ini, yang pertama kali diidentifikasi di Afrika Selatan pada akhir 2024, kini menunjukkan peningkatan kasus signifikan dan telah menyebar ke Amerika Serikat serta Eropa. Meski belum ada bukti menyebabkan penyakit lebih parah, para ahli memperingatkan potensi penyebarannya ke Indonesia mengingat mobilitas global yang tinggi dan keterbatasan surveilans genomik di beberapa wilayah.
Mengenal Varian BA.3.2 atau "Cicada"
Varian yang populer disebut Covid Cicada ini merupakan turunan dari Omicron. Karakter utamanya adalah jumlah mutasi pada protein spike yang sangat tinggi, mencapai sekitar 70 hingga 75 mutasi. Angka ini jauh lebih banyak dibandingkan varian seperti JN.1 atau LP.8.1 yang umumnya memiliki 30 hingga 40 mutasi. Lonjakan kasus yang terjadi sejak akhir 2025 diduga berkaitan dengan fase "peredaran tersembunyi" (cryptic circulation) varian ini, di mana virus sempat tidak terpantau secara luas sebelum akhirnya muncul kembali dan menyebar dengan cepat.
Epidemiolog dan Ahli Kesehatan Lingkungan, Dicky Budiman, mengonfirmasi potensi varian ini masuk ke Indonesia. Ia menekankan bahwa keterbatasan dalam pengurutan genom membuat data spesifik sulit diperoleh, namun kemungkinan penyebarannya tetap nyata.
"Surveillance genomic-nya masih terbatas, ya tentu kita tidak bisa berbicara data spesifiknya, ya. Tapi kalau masuk ke Indonesia sudah sangat mungkin BA 3.2 ini atau bahkan menyebar," ungkap Dicky, Kamis (2/4/2026).
Dicky menambahkan, tingginya mobilitas internasional menjadi faktor kunci yang mempermudah pergerakan varian ini melintasi batas negara.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Secara umum, gejala yang ditimbulkan oleh infeksi varian Cicada tidak jauh berbeda dengan varian Omicron sebelumnya. Masyarakat disarankan untuk tetap waspada jika mengalami sejumlah tanda klinis yang umum ditemukan. Gejala-gejala tersebut meliputi batuk, demam, dan kelelahan. Selain itu, nyeri otot, sakit kepala, bersin, serta sakit tenggorokan juga kerap dilaporkan. Gejala lain yang mungkin muncul adalah pilek atau hidung tersumbat, dan pada beberapa kasus, penurunan fungsi indra penciuman atau perasa.
Langkah Pencegahan yang Tetap Efektif
Menghadapi kemunculan sub-varian baru, protokol kesehatan yang telah terbukti efektif tetap menjadi senjata utama. Langkah-langkah pencegahan tidak berubah secara fundamental, namun kedisiplinan dalam menerapkannya justru semakin krusial. Upaya sederhana seperti rutin mencuci tangan dengan sabun dan menggunakan masker di tempat ramai atau saat merasa tidak sehat, terbukti mampu memutus mata rantai penularan.
Selain itu, menjaga jarak dari orang yang menunjukkan gejala sakit, serta melengkapi dosis vaksinasi booster sesuai anjuran, sangat penting untuk memperkuat pertahanan tubuh. Mendengarkan kondisi tubuh sendiri juga diperlukan; hindari beraktivitas jika kondisi tidak fit dan segera lakukan tes jika gejala-gejala infeksi saluran pernapasan muncul. Pendekatan kehati-hatian ini bukan hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitar kita.
Artikel Terkait
Gempa M7,6 Guncang Sulut, Picu Tsunami 0,75 Meter dan Rusak Bangunan di Ternate
Sekutu Eropa Tolak Dukungan Militer, Trump Kecam sebagai Tidak Tahu Terima Kasih
Gempa M 7,6 Picu Peringatan Tsunami, Gelombang 0,75 Meter Tercatat di Maluku Utara
Gempa M 7,6 Guncang Laut Bitung, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami