Pria Thailand 59 Tahun Minta Penari Dihadirkan di Pemakamannya agar Pelayat Tak Bersedih

- Rabu, 29 April 2026 | 03:25 WIB
Pria Thailand 59 Tahun Minta Penari Dihadirkan di Pemakamannya agar Pelayat Tak Bersedih

PARADAPOS.COM - Sebuah upacara pemakaman di Thailand menarik perhatian publik setelah seorang pria, Winij (59 tahun), memenuhi permintaan terakhirnya yang tidak biasa: menyewa sekelompok penari dewasa untuk tampil di depan peti matinya. Acara yang digelar pada Selasa lalu di Wat Thepphanom Chueat, Kabupaten Ron Phibun, ini bertujuan agar para pelayat tidak larut dalam kesedihan, sebagaimana diwartakan oleh media setempat. Video pertunjukan tersebut viral di media sosial, memicu perdebatan antara yang menganggapnya aneh dan yang mendukung semangat almarhum.

Suasana di lokasi pemakaman terasa berbeda dari biasanya. Di tengah prosesi yang khidmat, tiga penari yang dikenal sebagai "coyote dancers" meliuk-liuk di depan peti mati. Mereka mengenakan pakaian ketat berwarna pink, bergerak dengan gaya yang menggoda. Sebagian pelayat justru sibuk merekam momen itu dengan ponsel mereka. Di latar depan, seorang anak kecil tampak duduk santai sambil makan, seolah tak terusik oleh pemandangan yang dianggap kontroversial oleh banyak pihak.

Pesan Terakhir Sang Almarhum

Winij, yang digambarkan oleh tetangganya sebagai sosok "penuh kegembiraan" dan "ceria", telah lama berjuang melawan penyakit kronis sebelum akhirnya meninggal. Sebelum menghembuskan napas terakhir, ia berpesan kepada keluarganya untuk menyewa penari-penari tersebut. Harapannya sederhana: membuat para pelayat "tidak bersedih".

"Dia ingin semua orang tersenyum, bukan menangis," ujar seorang kerabat yang hadir dalam upacara tersebut, menggambarkan kepribadian almarhum yang selalu ceria.

Reaksi Publik Terbelah

Video pertunjukan yang sebagian harus disamarkan itu langsung menyebar luas di TikTok. Reaksi netizen pun terbelah. Sebagian pengguna merasa keputusan itu "sangat mengkhawatirkan". Mereka menilai para penari terlihat "tidak nyaman" saat menari di depan jenazah. Namun, tak sedikit pula yang membela pilihan unik Winij.

"Dia legenda," tulis seorang pengguna di kolom komentar. Yang lain menambahkan, "Dia jelas tahu cara menikmati hidup!"

Beberapa komentar menekankan bahwa pemakaman tidak harus selalu muram. "Pemakaman tidak harus selalu sedih dan khidmat," tulis sebagian warganet, menilai bahwa setiap orang berhak merayakan kepergian sesuai keinginan mereka.

Bukan Kasus Pertama

Kasus ini bukanlah pemakaman aneh pertama yang menjadi sorotan. Beberapa waktu lalu di China, sebuah keluarga terpaksa meminta maaf setelah menguburkan mobil Mercedes mewah senilai £120.000 sebagai penghormatan kepada ayah mereka. Fenomena semacam ini menunjukkan bahwa cara manusia menghormati orang yang dicintai bisa sangat beragam, tergantung pada budaya dan kepribadian masing-masing.

Di Thailand, upacara pemakaman Winij akhirnya ditutup dengan kremasi, sesuai tradisi Buddha setempat. Namun, kenangan tentang pria yang ingin pergi dengan tawa, bukan air mata, tampaknya akan terus hidup di benak mereka yang hadir maupun yang menyaksikan dari layar ponsel.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar