Defisit APBN Tembus Rp240,1 Triliun per Maret 2026, Pemerintah Optimistis Pendapatan Meningkat

- Selasa, 05 Mei 2026 | 09:25 WIB
Defisit APBN Tembus Rp240,1 Triliun per Maret 2026, Pemerintah Optimistis Pendapatan Meningkat

PARADAPOS.COM - Kementerian Keuangan mencatat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencapai Rp240,1 triliun per 31 Maret 2026. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan angka tersebut dalam konferensi pers APBN KiTa pada Selasa (5/5/2026), seraya menjelaskan bahwa defisit itu setara dengan 0,93 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Realisasi ini menjadi indikator awal tekanan fiskal di kuartal pertama tahun anggaran berjalan.

Di tengah ruang konferensi yang dipenuhi awak media, Purbaya memaparkan rincian kinerja APBN dengan nada tenang namun penuh perhitungan. Ia mengawali dengan menyebutkan bahwa pendapatan negara baru terkumpul Rp574,9 triliun, atau sekitar 18,2 persen dari target tahunan yang dipatok sebesar Rp3.153,6 triliun. Di sisi lain, belanja negara sudah terserap lebih cepat, mencapai Rp815 triliun atau 21,2 persen dari total pagu tahun ini. Perbedaan laju inilah yang menjadi pemicu utama defisit fiskal.

Pernyataan Menteri Keuangan soal Kendali Fiskal

"Hingga Maret 2026 APBN tumbuh ekspansif kalau dilihat, 2026 pendapatan negara tumbuh 10 persen angka April kepabeanan sudah positif. Surplus mencapai 240,1 defisit 0,93 persen dari PDB," jelas Purbaya di hadapan para wartawan.

Ia kemudian menambahkan optimisme terkait penerimaan negara ke depan. "Yang jelas, belanja selalu bisa kita kendalikan, income (pendapatan) juga akan kami tingkatkan. Sekarang 20,7 persen pertumbuhannya, pajak. Ke depan akan kita jaga dan mungkin akan tinggi lagi laju pertumbuhannya," ungkapnya.

Defisit Keseimbangan Primer dan Lonjakan Tahunan

Dalam laporan yang sama, Menteri Keuangan yang juga mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan ini menyoroti defisit keseimbangan primer yang telah mencapai Rp95,8 triliun. Angka tersebut tercatat melampaui target yang telah didesain sebelumnya, yaitu sebesar Rp89,7 triliun. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan pada anggaran tidak hanya berasal dari belanja rutin, tetapi juga dari ketidakseimbangan struktural antara pendapatan dan pengeluaran di luar pembayaran bunga utang.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, lonjakan defisit terlihat sangat signifikan. Pada Maret 2025, defisit APBN tercatat sebesar Rp104,2 triliun atau 0,43 persen dari PDB. Sementara itu, pada Maret 2026, defisit melonjak menjadi Rp240,1 triliun atau 0,93 persen dari PDB. Secara tahunan, terjadi peningkatan defisit sebesar 130,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Proyeksi Defisit Tahunan dan Strategi Pemerintah

Pemerintah sendiri telah menetapkan target defisit APBN untuk sepanjang tahun 2026 sebesar Rp689,1 triliun, atau dipatok pada level 2,68 persen terhadap PDB. Angka ini menjadi acuan bagi Kementerian Keuangan untuk menjaga agar defisit tidak membengkak lebih jauh di sisa tahun anggaran. Dengan realisasi di kuartal pertama yang sudah mencapai sekitar 34,8 persen dari total target defisit tahunan, tantangan untuk mengendalikan belanja dan meningkatkan pendapatan menjadi semakin nyata di lapangan.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar