PARADAPOS.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mencatat rekor terlemah sepanjang sejarah pada perdagangan Selasa pagi, 5 Mei 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sempat terdepresiasi hingga 0,23 persen ke posisi Rp17.420 per dolar AS, tepat saat pasar menanti rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada siang hari. Meskipun tekanan sedikit mereda pada pukul 09.28 WIB dengan pelemahan 0,08 persen di level Rp17.407 per dolar AS, sentimen negatif masih menyelimuti pasar keuangan domestik.
Tekanan Berlanjut di Pasar Saham
Pelemahan rupiah ternyata tidak berjalan sendiri. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut terkoreksi pada sesi awal perdagangan. Data dari Bursa Efek Indonesia mencatat, IHSG turun 3,38 poin atau setara 0,05 persen ke level 6.968,56. Angka ini menunjukkan bahwa tekanan di pasar valuta asing turut merembet ke pasar modal.
Hingga pukul yang sama, IHSG masih betah di zona merah dengan pelemahan tipis 0,88 poin ke kisaran 6.971. Para pelaku pasar tampak masih mencerna berbagai sentimen global dan domestik sebelum mengambil posisi lebih agresif.
Volume Transaksi dan Pergerakan Sektor
Dari lantai bursa, volume transaksi tercatat mencapai 1,64 miliar saham dengan nilai transaksi Rp515 miliar dan frekuensi sebanyak 114.325 kali. Angka ini mencerminkan aktivitas perdagangan yang cukup ramai di tengah ketidakpastian.
Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 178 saham berhasil menguat, sementara 283 saham lainnya justru tertekan ke zona merah. Adapun 195 saham lainnya bergerak stagnan. Kondisi ini menggambarkan dominasi sentimen negatif yang masih membayangi pasar.
Menanti Data Pertumbuhan Ekonomi
Fokus utama pasar saat ini tertuju pada rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 oleh BPS yang dijadwalkan pada siang hari. Data tersebut menjadi indikator kunci bagi investor untuk mengukur fundamental ekonomi nasional di tengah gejolak nilai tukar.
Seorang analis pasar yang enggan disebutkan namanya mengatakan, "Data pertumbuhan ekonomi kuartal pertama akan menjadi penentu arah pergerakan rupiah dan IHSG ke depannya. Jika hasilnya di bawah ekspektasi, tekanan bisa semakin besar."
Editor: Paradapos.com
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Bukan Bos TV, Ini Jejak Bisnis Bambang Nuryatno: Sosok di Balik Masuknya McDonald’s ke Indonesia
Ratusan Massa Kembali Kepung DPRD Kaltim, Pagar Jebol Usai Ketua DPRD Absen Temui Pengunjuk Rasa
Isu Pemakzulan Prabowo-Gibran Menguat di Tengah Krisis Kepercayaan dan Ketahanan Pangan
200 Ribu Buruh dari Enam Provinsi Siap Padati Monas pada May Day 2026, Polri Siapkan Rekayasa Lalu Lintas