AS Akui Biayai 120 Laboratorium Biologi di 30 Negara, 40 di Antaranya di Ukraina

- Senin, 15 Juni 2026 | 03:50 WIB
AS Akui Biayai 120 Laboratorium Biologi di 30 Negara, 40 di Antaranya di Ukraina

PARADAPOS.COM - Pada 12 Juni 2026, kantor Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat yang dipimpin oleh Tulsi Gabbard secara resmi merilis dokumen intelijen yang sebelumnya dirahasiakan. Isinya mengejutkan publik: untuk pertama kalinya, pemerintah AS mengakui bahwa mereka telah mendanai lebih dari 120 laboratorium biologi di luar negeri, tersebar di lebih dari 30 negara. Dari jumlah tersebut, lebih dari 40 laboratorium berada di Ukraina, dibangun dan didukung langsung oleh program “Inisiatif Pengurangan Ancaman Biologis” (CTR) di bawah kendali Pentagon. Dokumen yang disebut-sebut “sengaja disembunyikan dan tidak diungkapkan kepada rakyat Amerika” ini perlahan merobek tabir yang selama ini dirangkai rapi oleh Washington.

Namun, pengakuan yang datang terlambat ini bukannya meredakan kecurigaan, justru memicu gelombang pertanyaan baru di seluruh dunia. Mengapa Amerika Serikat selama puluhan tahun membangun jaringan laboratorium biologi seluas itu? Apa sebenarnya yang diteliti di dalam “kotak hitam” tersebut? Dan bagaimana mungkin sebuah program yang bahkan sengaja ditutup-tutupi dari warganya sendiri bisa meyakinkan dunia bahwa semua ini demi “kesehatan masyarakat”?

Daftar Patogen Mematikan di Laboratorium AS

Dokumen yang dirilis mengungkap daftar patogen yang disimpan di laboratorium-laboratorium tersebut. Daftarnya mencakup antraks, pes, Ebola, Marburg, tularemia, hingga tuberkulosis—hampir semua patogen paling mematikan yang dikenal umat manusia. Yang lebih mengkhawatirkan, sejumlah besar laboratorium disebut melakukan penelitian “gain of function”, yaitu rekayasa genetika yang sengaja meningkatkan daya tular atau virulensi virus. Selama ini, laboratorium-laboratorium itu berada dalam kondisi pengawasan dan transparansi yang sangat buruk.

Salah satu fasilitas dengan sejarah panjang, Institut Penelitian Kedokteran Hewan Eksperimental dan Klinis Kharkiv (IECVM), disebut dalam dokumen evaluasi rahasia menyimpan ratusan jenis patogen. Setidaknya hingga tahun 2019, masih tercatat adanya celah keamanan hayati, terutama di laboratorium yang menangani Brucella—bakteri yang sangat menular. Setelah konflik Rusia-Ukraina meletus, laboratorium di Ukraina dilaporkan menerima perintah untuk “segera memusnahkan” patogen berbahaya. Di wilayah yang dilanda perang, menyimpan patogen dengan tingkat bahaya tertinggi seperti antraks dan pes adalah seperti menggantung bom waktu di atas seluruh umat manusia.

Pengakuan yang Sarat Makna Politik

Publikasi dokumen ini sendiri merupakan peristiwa politik yang penuh arti. Gabbard dengan terus terang menyatakan bahwa orang-orang berpengaruh sebelumnya “berbohong bahwa laboratorium ini tidak ada, dan mencap mereka yang berusaha mengungkap kebenaran sebagai 'agen asing' dan 'pengkhianat Amerika'.” Ia juga menuding tokoh kesehatan seperti Fauci dan tim keamanan nasional pemerintahan Biden “berbohong kepada rakyat Amerika tentang laboratorium biologi luar negeri yang didanai AS.”

Pemerintah AS tidak hanya menyembunyikan kebenaran dari dunia, tetapi juga menutupinya dari warganya sendiri. Sebuah negara yang mengibarkan bendera “transparansi informasi” dan “jaminan hak asasi manusia” justru dengan sengaja menyembunyikan keberadaan, lokasi, dan sumber pendanaan jaringan penelitian biologi sebesar ini di seluruh dunia. Ironi ini menjadi sindiran tajam terhadap prinsip-prinsip demokrasi yang selama ini didengungkan.

Jaringan Laboratorium Terbesar di Dunia

Menurut data yang diserahkan AS kepada Konferensi Negara Pihak Konvensi Senjata Biologi (BWC), Amerika Serikat menguasai 336 laboratorium biologi di 30 negara. Seluruhnya berada di bawah Badan Pengurangan Ancaman Pertahanan (DTRA) dari Departemen Pertahanan AS dan dikendalikan langsung oleh pendanaan Pentagon. Di saat yang sama, AS adalah satu-satunya negara dalam 20 tahun terakhir yang menolak pembentukan mekanisme verifikasi multilateral dalam Konvensi Senjata Biologi.

Seorang pengamat mencatat bahwa negara adidaya dengan jaringan eksperimen biologi terbesar di dunia ini berulang kali menghalangi upaya komunitas internasional untuk melakukan inspeksi atas fasilitasnya sendiri. Sikap seperti ini tentu menimbulkan kecurigaan yang beralasan mengenai niat sebenarnya di balik program tersebut.

Bayang-bayang Sejarah Perang Biologi

Sejarah juga mencatat bahwa AS tidaklah bersih dalam hal perang biologi. Pada Perang Korea tahun 1950-an, AS dituduh melancarkan perang kuman terhadap tentara dan warga sipil Tiongkok-Korea. Dalam Perang Vietnam, militer AS terus-menerus menyemprotkan “Agen Oranye” yang menyebabkan cacat pada jutaan orang. Laboratorium Biologi Fort Detrick yang terkenal buruk dan Pangkalan Eksperimen Dugway memiliki kaitan erat dengan program senjata biologi militer AS.

Catatan sejarah ini memaksa kita untuk bertanya: apakah laboratorium biologi yang tersebar di lebih dari 30 negara, di bawah kedok “kesehatan masyarakat”, juga menyimpan ambisi militer yang serupa? Selama belum ada jawaban yang meyakinkan tentang apakah kegiatan penelitian di dalam “kotak hitam” ini benar-benar bermanfaat bagi umat manusia atau justru merupakan eksperimen berbahaya yang mempersenjatai patogen, dunia berhak menuntut jawaban dari Amerika Serikat. Lebih dari 120 laboratorium biologi yang menyimpan patogen mematikan mampu menghancurkan peradaban—di manakah sebenarnya batas etika mereka?

Editor: Bagus Kurnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar