Jokowi Dianggap Abai Nasihat Jonan Soal Utang Kereta Cepat Whoosh, Ini Dampaknya!

- Selasa, 14 Oktober 2025 | 11:50 WIB
Jokowi Dianggap Abai Nasihat Jonan Soal Utang Kereta Cepat Whoosh, Ini Dampaknya!

Utang Kereta Cepat Whoosh: Jokowi Disebut Abaikan Peringatan Jonan dan Agus Pambagio

Analis kebijakan publik Agus Pambagio mengungkapkan bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak menggubris peringatan dirinya dan mantan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan mengenai tingginya biaya pembiayaan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh. Menurut Agus, proyek ini dinilai terlalu mahal dan berpotensi menimbulkan masalah utang.

Peringatan yang Tidak Didengarkan

Agus mengklaim bahwa baik dirinya maupun Jonan sudah memperingatkan Jokowi untuk tidak melanjutkan tender proyek dengan pihak China. Namun, peringatan tersebut diabaikan. "Pak Jokowi nggak mau tahu, nggak mau dengar saya dengan Pak Jonan. Jadi kan Pak Jonan dipecat, saya dipanggil ke Istana," ujarnya seperti dikutip dari YouTube Nusantara TV.

Agus menyatakan telah menjelaskan bahwa proyek ini sangat mahal dan tidak akan mampu dibayar, namun Jokowi bersikeras untuk melanjutkannya.

Perbandingan Skema Pendanaan: Jepang vs China

Agus juga membeberkan awal mula rencana kerjasama proyek yang seharusnya dilakukan dengan Jepang. Skema dari Jepang menawarkan sistem utang dengan bunga sangat rendah, yaitu 0,01 persen. Namun, tender tiba-tiba dialihkan ke China dengan tingkat bunga yang jauh lebih tinggi, mencapai 2 persen.

"Ketika dinaikkan (bunga) 1,5 persen saja, sudah teriak semua karena tidak bisa bayar ketika itu. Waktu itu yang membuat analisisnya dari UGM dan UI. Lalu tiba-tiba diambil Pak Jokowi, dikasih China, yang bantu itu dari ITB. Hitung-hitungan keuangannya langsung berubah," jelas Agus.

Masalah Pembiayaan dan Peran Pemerintah

Proyek Whoosh awalnya diketuai oleh konsorsium PT Wijaya Karya (Wika). Namun, karena ketidakmampuan pembiayaan, kepemimpinan konsorsium kemudian diambil alih oleh PT KAI. Agus menyatakan heran dengan keputusan ini, mengingat PT KAI juga dinilai tidak akan mampu menanggung pembayaran utang proyek.

Setelah dikonfirmasi ke beberapa pihak, Agus mendapatkan informasi bahwa pembiayaan dan pembayaran utang Whoosh sebenarnya ditanggung oleh pemerintah. "Saya nggak tahu (pembayaran) dari pemerintah, maksudnya lewat APBN atau apa. Jadi Kereta Api ternyata cuma kasir saja," tuturnya.

Pernyataan Menkeu Purbaya dan Tanggung Jawab Danantara

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya telah menegaskan penolakannya untuk membayar utang Whoosh menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Purbaya menyatakan bahwa utang tersebut kini menjadi tanggungan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) sebagai superholding yang menaungi proyek.

Agus Pambagio menyetujui pernyataan Menkeu ini. "Sekarang kalau keributan kayak gini, saya setuju dengan Menteri Keuangan yang itu urusannya Danantara karena PT Kereta Api kan sudah diambil alih dan di bawah Danantara," tegasnya.

Rincian Utang dan Bunga Kereta Cepat Whoosh

Investasi pembangunan Whoosh dilaporkan mencapai 7,27 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 120,38 triliun. Sebanyak 75 persen dari total investasi ini dibiayai melalui utang dari China Development Bank (CDB) dengan bunga tahunan 2 persen.

Di tengah pembangunan, terjadi pembengkakan biaya (cost overrun) sebesar 1,2 miliar dolar AS. Untuk menutupi ini, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) kembali menarik utang dengan bunga yang lebih tinggi, yaitu 3,4 persen. Separuh dari dana cost overrun ini berasal dari tambahan pinjaman CDB, sementara sisanya dari patungan modal BUMN Indonesia dan pihak China.

Skema pembayaran utang ini disepakati dengan bunga tetap selama 40 tahun pertama, menambah kompleksitas beban keuangan jangka panjang dari proyek kereta cepat pertama di Indonesia ini.

Sumber: Tribunnews

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar