Pernyataan Militer Israel Soal 70.000 Pasukan Cadangan Picu Diskusi Akhir Zaman di Medsos

- Minggu, 01 Maret 2026 | 05:00 WIB
Pernyataan Militer Israel Soal 70.000 Pasukan Cadangan Picu Diskusi Akhir Zaman di Medsos

PARADAPOS.COM - Sebuah pernyataan dari pejabat militer Israel mengenai rencana memanggil puluhan ribu tentara cadangan untuk menghadapi Iran telah memicu gelombang diskusi di media sosial. Pernyataan yang muncul di tengah eskalasi konflik kedua negara itu, lantas dikaitkan oleh sebagian warganet dengan ramalan dalam sejumlah hadis mengenai tanda-tanda akhir zaman.

Eskalasi Konflik yang Memicu Pengerahan Pasukan

Latar belakang dari pernyataan tersebut adalah ketegangan yang terus memanas antara Israel dan Iran. Serangan udara Israel ke wilayah sekitar Teheran, yang dilaporkan menyasar lokasi dekat kantor pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, menjadi pemicu eskalasi terbaru. Amerika Serikat disebut-sebut juga telah memperkuat kehadiran militernya di kawasan tersebut.

Dalam konteks ini, sebuah unggahan di platform media sosial X mengklaim menyitir pernyataan pejabat militer Israel.

"PEJABAT MILITER ISRAEL: KAMI BERHARAP DAPAT MEMANGGIL 70.000 TENTARA CADANGAN DALAM BEBERAPA HARI KE DEPAN, SEBAGIAN BESAR DARI PASUKAN PERTAHANAN UDARA," tulis unggahan tersebut, yang kemudian menyebar luas.

Respons Warganet: Dari Analisis Militer ke Ramalan Akhir Zaman

Angka 70.000 dalam pernyataan itu rupanya menarik perhatian khusus. Alih-alih hanya membahas implikasi strategis militer, banyak warganet justru menghubungkannya dengan narasi keagamaan, khususnya hadis-hadis yang menceritakan tentang kemunculan Dajjal di akhir zaman.

Seorang pengguna dengan jelas menyuarakan kecurigaannya.

"Bentar, 70 ribu pasukan? Kenapa kok spesifik banget 70 ribu???? Jangan2 konspirasi Dajjal sebenernya sudah turun, hanya saja lg bekerja di balik layar Israel dan US, itu bener?" tulis akun @afrkml.

Kekhawatiran ini berangkat dari riwayat hadis sahih yang menyebutkan bahwa Dajjal akan muncul didampingi oleh 70.000 pengikut dari kalangan Yahudi. Narasi keagamaan ini memberikan kerangka interpretasi yang berbeda bagi sebagian orang dalam membaca perkembangan geopolitik yang terjadi.

"Dajjal akan diikuti oleh kaum Yahudi Asbahan sebanyak 70 ribu orang dengan memakai toylusan (jubah hijau)," bunyi salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, yang sering dikutip dalam diskusi-diskusi semacam ini.

Diskusi yang Terfragmentasi di Ruang Digital

Platform media sosial pun menjadi arena bagi beragam tanggapan. Sebagian warganet mengingatkan untuk berhati-hati terhadap fitnah Dajjal, sementara yang lain mencoba menganalisis dengan lebih tenang, melihat pengerahan pasukan sebagai bagian dari dinamika konvensional perang modern yang belum tentu terkait ramalan.

"Betul, pernah nonton podcast yg membahas tentang Dajjal. Dan kurang lebih konspirasinya sama. Semoga kita termasuk kaum yg di jauhkan dari fitnah Dajjal dan tidak merasakan tipu dayanya aamiin," tulis seorang pengguna.

Pandangan lain berusaha menempatkan peristiwa dalam konteks politik yang lebih langsung. "Blm sampe ke tahap itu ners. Ini baru tahap seruan. Bakal kejadian klo Iran mulai jatuh nnti (pas warga yg dukung rezim Iran berbalik jdi oposisi krn putus asa dan nganggap Iran benar2 hancur gk tertolong lg)," komentar akun @MrAr.

Ada pula yang melihat fenomena Dajjal secara lebih metaforis, sebagai kekuatan yang merusak nilai-nilai kemanusiaan. "saya percaya dajjal itu sdh turun lama, yg membalikkan pola pikir manusia: apa yg benar jadi salah, yg salah di bela mati-matian, yg berbau surga jadi aneh dan sebaliknya, neraka menjadi sangat indah dan dielu-elukan. dan semua itu mengerucut berasal dari mereka," ungkap @jun".

Perbincangan ini menunjukkan bagaimana informasi mengenai konflik geopolitik tingkat tinggi dapat diproses dan ditafsirkan ulang melalui lensa keyakinan dan narasi yang beragam di ruang digital, menciptakan percampuran antara analisis fakta terkini dengan interpretasi teks-teks keagamaan yang telah ada sejak lama.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar