Momentum pemeriksaan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh dinilai sedang tepat. Direktur Eksekutif Sabang Merauke Circle, Syahganda Nainggolan, menyoroti sejumlah kejanggalan dalam proyek yang diduga kuat dipengaruhi kepentingan geopolitik dan ekonomi China.
Pertemuan Prabowo-Trump dan Sinyal Perubahan Geopolitik
Syahganda mengaitkan pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menolak menanggung utang kereta cepat dengan pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Donald Trump di KTT Gaza. Pertemuan ini disebut sebagai sinyal penting pergeseran arah geopolitik Indonesia, yang mungkin ingin menata ulang ketergantungan pada proyek-proyek China.
KCJB Dinilai Sebagai "Jebakan Utang China"
Proyek KCJB disebut sebagai "jebakan utang China" yang penuh kejanggalan. Syahganda mengungkapkan, proposal awal kereta cepat justru berasal dari Jepang yang telah menyelesaikan studi kelayakan. Namun, tiba-tiba China masuk dengan proposal yang dianggap lebih murah, namun tanpa proses transparan.
Kritik Lingkungan dan Isu Keamanan di Halim
Kritik terhadap proyek ini bukan hal baru. Menteri Koperasi Ferry Juliantono, yang dulu menjabat Ketua Gerindra Jawa Barat, tercatat kerap menolak proyek ini karena dinilai merusak lingkungan. Selain itu, muncul pertanyaan geopolitik mengenai pemilihan titik akhir di Halim, markas elit TNI AU, yang memicu spekulasi soal kepentingan intelijen China.
Syahganda menegaskan bahwa segala peringatan dan nasihat kepada Jokowi sebenarnya sudah disampaikan jauh-jauh hari. "Pengamat sudah menasihati, tapi Pak Jokowi tidak mau dinasihati," pungkasnya.
Artikel Terkait
Pemuda Tewas Dibunuh di Kamar Penginapan Medan, Jenazah Dibuang ke Sungai
Polisi Usut Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS, DPR Desak Penanganan sebagai Percobaan Pembunuhan
Menteri Keuangan Buka Opsi Naikkan Batas Defisit APBN di Atas 3 Persen
Presiden Prabowo Usulkan WFH untuk Antisipasi Ancaman Kelangkaan BBM